Selasa, 2 Juni 2026
Artikel Opini
Esai

Ramadhan dan Kepedulian Sosial Urang Sunda

Kamis, 9 Juni 2016

KISUTA.com - Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa sehingga dinanti-nantikan oleh seluruh umat Islam. Pada bulan ini terdapat berbagai keutamaan, di antaranya seluruh amal kebaikan mendapat ganjaran dan menjadi keberkahan. Dengan begitu, membuat setiap umat muslim mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin dibandingkan dengan amalan yang dilaksanakan pada bulan lainnnya.


Umat Islam juga tidak hanya memfokuskan diri pada pembinaan spiritual secara individual saja, tetapi pada pembinaan masyarakat. Sebagaimana tujuan dari ibadah puasa yang menjadi ciri utama bulan ini, yaitu meningkatkan ketakwaan. Hingga diharapkan mampu bertransformasi menjadi kesalehan sosial, salah satunya melalui peningkatan kepedulian sosial seorang muslim.


Pada masyarakat Sunda, kepedulian sosial tidak hanya terwujud melalui amalan-amalan ibadah di bulan Ramadhan. Tapi juga melalui banyaknya tradisi, yang mengajarkan kepada kita untuk selalu memiliki kepedulian sosial dan saling membantu antara sesama.


Misalnya tradisi “munggahan”, untuk mengawali ibadah di bulan Ramadhan. Pada tradisi ini masyarakat berupaya untuk menyajikan sahur dengan hidangan yang sebaik-baiknya, kadang kala saling kirim makanan antartetangga. Tradisi munggahan ini mengajarkan bagaimana kita menghormati dan menghargai, sekaligus bentuk keceriaan menyambut datangnya bulan penuh ampunan ini. Dengan disiapkannya hidangan yang lebih baik daripada hidangan pada hari-hari biasanya. Para tetangga acapkali mengirim makanan kepada tetangga lainnya dengan istilah “ngaraosan” untuk meningkatkan kepedulian sosial di antara sesamanya.


Kepedulian sosial urang Sunda terlihat tidak hanya berada pada awal bulan saja. Tetapi, selama berlangsung bahkan setelah bulan Ramadhan berakhir.


Pada bulan Ramadhan, ada tradisi tajil dengan berbagi dengan orang lain, apakah itu ke masjid atau langsung dibagikan ke rumah-rumah yang menjadi tetangganya. Mengingat begitu besarnya pahala yang diberikan kepada orang-orang yang memberikan tajil. Meskipun seperti yang dikatakan hadits nabi hanya seteguk air, susu, ataupun sebutir kurma, dengan imbalan pahala sama seperti orang yang berpuasa. Menjadikan urang Sunda semakin meningkatkan kepedulian sosial untuk saling berbagi rezeki dengan yang lain.


Menjelang ahir bulan, ada yang dinamakan malam lailatur qadar. Pada malam-malam ganjil yang dimulai dari tanggal 21 sampai 29, pada masarakat Sunda, ada yang dinamakan tradisi “zazaburan”. Yaitu tradisi memberikan “lalawuh” atau penganan kepada orang-orang yang melaksanakan ibadah tarawih.


Pada akhir bulan, ada tradisi “mawakeun”, yaitu berkirim-kirim makanan pada para tetangganya. Pada tradisi ini kepedulian sosial meningkat dengan adanya perasaan untuk saling berbagi.


Selama bulan Ramadhan berlangsung, nyaris tidak ada urang Sunda yang merasa sendirian. Karena setiap masyarakat melalui berbagai tradisi yang ada saling merasa peduli terhadap sesama.


Setelah Ramadhan berakhir, masuklah pada hari raya Idul Fitri. Pada Idul Fitri ini urang Sunda berbahagia menyambut hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa. Terdapat tradisi saling berkunjung untuk meminta maaf dan tradisi untuk berbagi THR, serta tradisi untuk berbagi “kakarén” atau sisa makanan setelah Idul fitri. Melalui tradisi ini, urang Sunda diajarkan untuk saling berbagi dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama masyarakat yang ada.


Pada tataran ini, jelas bahwa urang Sunda dengan tradisi-tradisi yang dimilikinya telah mampu mentransformasikan amalan-amalan bulan Ramadhan ke dalam aplikasi nyata yang berisi kepekaan dan kepedulian sosial terhadap sesama. Nilai-nilai kepedulian sosial telah mengakar melalui tradisi yang menjadi warisan luhur. Dengan harapan mampu menjadikan urang Sunda ”rempug jukung sauyunan” dalam ikatan tali silaturahmi.


Sayang, kian hari tradisi ini semakin terkikis. Meski begitu, semoga mampu dilestarikan tidak hanya dilaksanakan dulu dan kini, tapi nanti. Selama urang Sunda mampu “nyekel pageuh adat tatali paranti karuhun”.***


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya