Srikandi Malih Warni
KISUTA.com - Padepokan Parang Gumiwang di tepi telaga Swargawarna yang indah. Nyai Amintuna bercakap-cakap dengan Dewi Wara Srikandi yang sudah mulai pulih dan menunjukkan kemajuan yang pesat untuk kesehatannya.
Nyai Amituna: Nini Srikandi...apakah badanmu sudah lebih enak? Kyai Begawan menanyakan kabarmu nini...
Srikandi: Ya Nyai...terima kasih atas perawatan Nyai dan Kyai...sungguh aku orang yang sangat beruntung...jika tidak jatuh di padepokan ini dan dirawat oleh Nyai dan Kyai Begawan Amintuna, mungkin aku sudah tewas..Ooo Nyai, aku bisa mengerti kedukaan hati Prabu Dike hingga menghajarku serupa itu...
Nyai Amintuna: Srikandi mendengar ceritamu, akupun maklum kemarahan sang Prabu Dike...lalu sekarang apa yang menjadi rencanamu nini...?
Srikandi: Ya Nyai...beberapa hari ini aku tidak bisa tidur mengingat lelakonku dan polahku yang jauh dari tanggung jawab...wajah Dewi Durniti yang menangis duka dan kecewa setelah mengetahui jati diriku, sungguh sangat menggangguku...terbayangkan betapa malu dan hinanya jika hal itu menimpaku...mencintai seorang ksatria bagus, ternyata sang ksatria itu juga seorang wanita...Ooo Nyai betapa besar dosa dan kedukaan yang aku timbulkan dari polahku yang nakal itu...
Nyai Amintuna: Srikandi...jangan terlalu menyiksa dirimu dengan pikiran itu, ingatlah nini engkau menyamar sebagai laki-laki dan mengikuti sayembara di Manimantaka, juga atas saran dewata agung...bukan sepenuhnya kesalahanmu nini...tentu ada rencana dewa berkaitan dengan kisahmu ini...
Kesunyian menyapu beranda Parang Gumiwang, Srikandi dan Nyai Amintuna terperangkap dalam lamunan permainan perasaan mereka. Di keheningan itu, datanglah Begawan Amintuna melibatkan diri dalam percakapan...
Begawan Amintuna: Oooo...nini...nini Dewi Srikandi, benar apa yang dikatakan istriku.. semua kejadian yang engkau alami, tentu ada tujuannya...begitupun kehadiranmu di Parang Gumiwang...bahwa tubuhmu jatuh di sini, hingga aku dan istriku bisa merawatmu, tentu ada manfaatnya.
Srikandi: Sang Begawan, tetapi sekarang rasa bersalah terus mengejarku...aku tidak bisa memicingkan mataku mengenang nasib Dewi Durniti yang harus menanggung wirang seumur hidupnya karena pokalku..Oh Begawan yang mulia, adakah cara yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahanku ini...
Begawan Amintuna: Nini...sesungguhnya aku memiliki ilmu untuk bertukar jenis kelamin sementara...artinya jenis kelaminku aku tukarkan dengan muridku, hanya untuk sementara waktu...tetapi engkau harus menjadi muridku dulu Srikandi, agar bisa menggunakan ilmu ini, itupun kamu harus minta ijin istriku...hahahaha karena beberapa purnama dia akan kehilangan kehangatan dekapan suaminya...hehehe
Srikandi: Ah, apakah.. ini berarti nantinya sebagai pria aku bisa membahagiakan Dewi Durniti? Sementara’ itu berapa purnama Begawan?
Begawan Amintuna: Hahaha berapa purnama? Itu tergantung keikhlasan istriku... bagaimana Nyai, mau kamu ikhlaskan berapa purnama....
Nyai Amintuna (tersipu-sipu): Kok malah jadinya saya yang harus memutuskan to kakang Begawan? Nini Srikandi, apakah 4 Purnama cukup untukmu?
Sejak kesepakatan dibuat, Srikandi mulai digembleng ilmu ‘malih warni’ oleh Begawan Amintuna, sang Begawan juga menambahkan ilmu-ilmu lainnya sehingga kesaktian Srikandi maju dengan pesatnya.
Akhirnya tibalah saat ilmu ‘malih warni’ diterapkan...Srikandi mulai mengenakan lagi busana penyamarannya sebagai Bambang Kandihawa...duduk bersila berhadap-hadapan dengan Begawan Amintuna. Kedua tangan mereka saling beradu sambil memusatkan pikiran...uap tipis mengepul dari ubun-ubun keduanya...sampai sesaat kemudian siluet kebiruaan masuk dari tubuh Begawan Amintuna ke tubuh Bambang Kandihawa, sebaliknya siluet kuning keemasan masuk ke Begawan Amintuna dari Bambang Kandihawa. Prosesi pergantian kelamin selesai sudah...Bambang Kandihawa yang tampan bertambah gagah dan tegap serasa lebih macho...sementara Begawan Amintuna beralih menjadi raseksi yang gemulai.
Senja itu, Bambang Kandihawa menyusup ke taman Manimantaka, dengan hati-hati dia menyelinap ke rimbun dedaunan pohon beringin yang gagah menghiasi taman kerajaan itu. Sesaat dilihatnya Dewi Durniti sendirian di tepi kolam, dengan wajah yang sendu...badannya kurus, wajahnya pucat. Bambang Kandihawa merasa iba pada sang putri jelita, rasa bersalah kembali menyergapnya...dengan penuh perasaan didendangkannya suara hatinya...
"Duhaiii, bunga indah wangi di taman...letihmu tergambar dalam balur dosaku..jika kesempatan datang, adakah maaf bisa kudapat? Siang dan malam merana dikejar dosa, hanya wajahmu pemberi harapan....duhai bidadari sukmaku, tlah kupenuhi karmaku... aku ubah jatidiriku...untuk membasuh luka dihatimu..."
Dewi Durniti mengerutkan keningnya, matanya menatap tajam ke arah rimbun pohon beringin...suara itu sungguh dikenalnya... antara rindu dan benci...perlahan Dewi Durniti melangkah menuju pohon beringin itu...lirih ucapannya mengikuti pandangan matanya mendongak ke atas pohon. “Siapa engkau sinatria...jangan berlaku pengecut, tampakkan wajahmu...kau dendangkan kisah piluku, serasa engkau tahu dan terlibat di dalamnya.. sudahi bermain kata-kata, beranilah menghadapi kenyataan, baru pantas kau sikapi dirimu dalam balutan martabat dan kehormatan....”
Bambang Kandihawa tersenyum dalam persembunyiaannya, Dewi Durniti memang wanita jelita yang lembut, namun ketegasan yang terkandung dalam ucapannya yang tajam, menunjukkan bahwa wanita ini memiliki kepribadian yang kuat...Kandihawa turun dari Pohon Beringin menghampiri Durniti....walau telah memperkirakan, tetap saja Durniti terkejut. Durniti melengos membuang mukanya, Kandihawa segera menangkap tangannya lembut sebelum sang Dewi meninggalkan taman.
Kandihawa: Yayi Durniti...tunggu, ijinkan aku menjelaskan masalah kita...jika setelah itu engkau tetap murka...aku rela mati di tanganmu...
Durniti: Enak saja engkau bicara kakang Kandihawa...mati ditanganku? Apakah dengan membunuhmu sakit hatiku selesai? Yang ada malah dosa yang harus aku tanggung sampai neraka menjadi hunianku yang abadi...sudahlah, jangan membuang waktuku...apa maumu? Bicaralah cepat...dan tinggalkan aku segera...
Kandihawa: Oo Durniti, begitu hebatnya luka yang aku torehkan di jiwamu yayi...aku bersalah ya aku bersalah padamu wahai wanita mulia...(Kandihawa bersimpuh hendak mencium kaki Durniti, tetapi ditepiskan oleh Durniti)
Durniti: Hhmm..buat apa bersimpuh di kakiku...sikap itu hanya pantas engkau lakukan pada ibu yang melahirkanmu...dan dengan sikapmu padaku, bisa aku bayangkan engkaupun telah melukai ibumu Kandihawa....sujudlah saja engkau padanya...
Kandihawa: Jagad Dewa Bathara...duh Durniti, sungguh engkau wanita wicaksana...sungguh tajam dan benar kata-katamu...kisahku memang dimulai dari perlawananku pada orang tuaku...terutama pada ibuku tercinta...
Dengan terbata-bata, Kandihawa mulai menceritakan kisahnya sebagai Dewi Wara Srikandhi putri kerajaan Pancalaradya,...saat menemukan kalung sangkara, perdebatannya dengan ayahnya, luka dan sakit hatinya saat dibentak ibunya...hingga minggat, bertemu dengan Bathara Narada dan memasuki sayembara praja Manimantaka...
Kandihawa: Durniti...aku menjalani hidupku mengalir saja, mengikuti petunjuk dewa.. sungguh aku tidak menyangka, begini jadinya..melukai hati seorang wanita mulia sepertimu.. Oo Durniti, setelah aku ditendang ayahmu, aku jatuh di padepokan Parang Guwimang, dijadikan murid Pendeta Yaksa yang bernama Begawan Amintuna.. saat guruku mendengar kisah kita...beliau memberikan jalan keluar, namun yayi...jalan keluar ini sifatnya hanya sementara...hanya 4 purnama...namun jika kita bisa memanfaatkan waktu yang terbatas itu, semogalah bisa membasuh luka wirang, rasa malu dan kesedihanmu...juga sesuai petunjuk dewa, bisa memberikan keturunan bagi praja Manimantaka...
Dewi Durniti adalah wanita yang lembut dan baik hati, seksama dia dengarkan semua kisah Srikandhi hingga menjadi Bambang Kandihawa dengan penuh perhatian...campur aduk yang dia rasakan dari rasa simpati, kasihan hingga gemas pada kebengalan Srikandi...
Dewi Durniti: Kakang Kandihawa, sungguh luarbiasa kisahmu, aku bisa merasakan betapa tidak nyamannya dibanding-bandingkan dengan saudari, walau aku anak tunggal...aku tahu perasaanmu...tetapi engkau memang nakal...ibumu wanita bijak yang selalu ada untukmu.. tetapi engkau tega meninggalkannya...aku bayangkan betapa duka beliau mengisi malam-malamnya dengan kerinduan padamu...Ooo kakang Kandihawa, jika kelak engkau bertemu dengannya sujudlah seperti niatmu tadi sujud padaku....Kakang...akhirnya kisahmu menuntunmu bertemu dengan Begawan Amintuna...malih warni yang engkau lakukan...aku hargai sebagai keluhuran budimu untuk menutupi rasa malu kami sekeluarga karena engkaulah pemenang sayembara...(Dewi Durniti menghela nafas panjang..alisnya berkerut)
Kandihawa: Ya yayi...semoga dengan upayaku ini kita bisa menjalani hidup sebagai suami istri yang baik...
Dewi Durniti: Hhmmm...kakang Kandihawa, 4 Purnama yang diberikan Begawan Amintuna untukmu dan untukku, rasanya memadai...karena, ketahuilah Kakang...sebenarnya ragaku ini juga tidak sehat...sesuai wangsit dewata, sepasar setelah aku melahirkan, aku akan meninggal, dan anakkulah yang akan melanjutkan pengabdian sebagai keturunan kerajaan Manimantaka...
Bambang Kandihawa tidak mampu berkata-kata, rasa haru akan nasib malang Dewi Durniti membuatnya merengkuh wanita lembut ini dalam pelukannya....senja itu, kedua insan ini hanyut dalam permainan perasaan, mereka tidak butuh kata-kata lagi...senyap yang penuh makna....
Dewi Durniti mampu meredakan amarah Prabu Dike, dengan kelembutan hatinya dan penjelasan yang gamblang tentang siapa Kandihawa sesungguhnya dan akhir dari upaya Kandihawa dengan kisah bantuan Begawan Amintuna pada ayahnya.
“Ooo..Durniti anakku sayang...baiklah ayah memaafkan Bambang Kandihawa, dan merestui kalian sebagai suami istri sebagaimana seharusnya, sesuai sayembara itu...tetapi Durniti, aku minta pada Bambang Kandihawa...jika setelah 4 Purnama, dia kembali kepada jatidirinya sebagai Dewi Wara Srikandhi...aku minta Srikandhi meninggalkan Manimantaka kembali ke Pancalaradya, tinggalkan kamu dan anak dalam kandunganmu nantinya... aku tidak mau cucuku bingung, mengapa ayahnya berubah menjadi wanita....Kelak, akan ada suatu kesempatan, Srikandi memanfaatkan ilmunya “malih warni” datanglah menengok anakmu sebagai laki-laki dengan nama Bambang Kandihawa...bagaimana? Pahamkah kalian dengan permintaanku ini?
Kedua sejoli itu menganggukkan kepala berterimakasih atas kebijaksanaan Prabu Dike. Empat purnama yang tersedia, menjadi waktu yang sangat berharga bagi pasangan itu. Ketika tiba saatnya Srikandhi harus meninggalkan Durniti....dia berpesan agar bayi yang lahir kelak diberi nama Nirbita...Prabu Dike menambahkan saat sang bayi memasuki ambang kedewasaan dia akan memberikan nama keprabon sebagai putra mahkota Manimantaka dengan nama Niwatakawaca.*
Ira Sumarah Hartati Kusumastuti - kisuta.com


