Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Mu’adz bin Jabal

Cendekiawan yang Sibuk Menganalisa dan Mengoreksi Diri

Kamis, 16 Juni 2016

KISUTA.com - Ketika Rasulullah mengambil bai’at dari orang-orang Anshar pada perjanjian ‘Aqabah yang kedua, di antara para utusan yang terdiri 70 orang itu terdapat seorang anak muda dengan wajah berseri, pandangannya menarik dan gigi putih berkilat serta memikat perhatian dengan sikap dan ketenangannya. Dan jika bicara maka orang yang melihat akan tambah terpesona karenanya. Itulah dia Mu’adz bin Jabal r.a.

Tetapi kelebihannya yang paling menonjol dan keistimewaannya yang utama ialah fiqih atau keahliannya dalam soal hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini mencapai taraf yang menyebabkannya berhak menerima pujian dari Rasulullah dengan sabdanya: “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan haram ialah Mu’adz bin Jabal”.

Dalam kecerdasan otak dan keberaniannya mengemukakan pendapat, Mu’adz hampir sama dengan Umar bin Khatthab. Kecintaannya terhadap Kitabullah dan Sunnah Rasulullah tidak menutup pintu untuk berijtihad mengikuti buah pikirannya, dan tidak menjadi penghalang bagi akalnya untuk memahami kebenaran-kebenaran dahsyat yang masih tersembunyi, yang menunggu usaha orang yang akan menghadapi dan menyingkapinya.

Mu’adz memiliki otak yang terlatih baik dan logika yang menawan serta memuaskan lawan, yang mengalir dengan tenang dan cermat. Dan di mana saja kita jumpai namanya –di celah-celah riwayat dan sejarah, kita dapati ia sebagai yang selalu menjadi pusat lingkaran. Di mana ia duduk selalu dilingkungi oleh manusia. Mu’adz seorang pendiam, tak hendak bicara kecuali atas permintaan hadirin. Dan jika mereka berbeda pendapat dalam suatu hal, mereka pulangkan kepada Mu’adz untuk memutuskannya. Maka jika ia telah buka suara, “Seolah dari mulutnya keluar cahaya dan mutiara…”.

Mu’adz adalah seorang yang murah tangan, lapang hati dan tinggi budi. Tidak suatu pun yang diminta kepadanya, kecuali akan diberinya secara berlimpah dan dengan hati yang ikhlas. Sungguh kemurahan Mu’adz telah menghabiskan semua hartanya. Ketika Rasulullah wafat, Mu’adz masih berada di Yaman, yakni semenjak ia dikirim Nabi ke sana untuk membimbing Kaum Muslimin dan mengajari mereka tentang seluk beluk agama.

Di masa pemerintahan Abu Bakar, Mu’adz kembali ke Yaman. Ia menjadi seorang yang kaya raya. Mu’adz adalah seorang yang bersih tangan dan suci hati. Dan seandainya sekarang ia telah menjadi kaya raya, maka kekayaan itu diperolehnya secara halal, tidak pernah diperolehnya secara dosa bahkan juga tak hendak menerima barang yang syubhat.

Mu’adz senantiasa menyeru manusia untuk mencapai ilmu dan berdzikir kepada Allah. Diserunya mereka untuk mencari ilmu yang benar lagi bermanfaat. Menurut Mu’adz, ilmu itu ialah mengenal dan beramal, katanya: “Pelajarilah segala ilmu yang kalian sukai, tetapi Allah tidak akan memberi kalian manfaat dengan ilmu itu sebelum kalian mengamalkannya lebih dahulu. Sedangkan iman dan dzikir kepada Allah ialah selalu siap siaga demi kebesaranNya dan pengawasan yang tak putus-putus terhadap kegiatan jiwa.

Mungkin sikap dan pendiriannya itu terdorong oleh sikap jiwa dan pikiran yang tidak mau diam dan bergolak sesuai dengan pendiriannya yang pernah ia kemukakan kepada Rasulullah, bahwa tiada satu langkah pun yang dilangkahkannya kecuali timbul sangkaan bahwa ia tidak akan mengikuti lagi dengan langkah berikutnya. Hal itu ialah karena tenggelamnya dalam mengingat Allah dan kesibukannya dalam menganalisa dan mengoreksi diri.

Mu’adz pindah ke Syiria, di mana ia tinggal bersama penduduk dan orang yang berkunjung ke sana sebagai guru dan ahli hukum. Dan tatkala Abu Ubadah –amir atau gubernur militer di sana– serta sahabat kharib Mu’adz meninggal dunia, ia diangkat oleh Amirul Mukminin Umar sebagai penggantinya di Syiria. Tetapi hanya beberapa bulan saja ia memegang jabatan itu, ia dipanggil Allah untuk menghadapNya dalam keadaan tunduk dan menyerahkan diri. Mu’adz meninggal dunia di masa pemerintahan Umar, sedang usianya belum genap 33 tahun.* Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah” - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya