Lambang Persamaan Derajat Manusia
KISUTA.com - Bila disebut nama Abu Bakar, maka Umar akan berkata: “Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita”. Maksudnya ialah Bilal…
Seorang yang diberi gelar oleh Umar “pemimpin kita”, tentulah suatu pribadi besar yang layak beroleh kehormatan seperti itu. Tetapi setiap menerima pujian yang ditujukan kepada dirinya, maka laki-laki yang berkulit hitam, kurus kerempeng, tinggi jangkung, berambut lebat dan bercambang tipis itu akan menundukkan kepala dan memejamkan mata, serta dengan air mata mengalir membasahi pipinya, akan berkata: “Saya ini hanyalah seorang Habsyi…, dan kemarin saya seorang budak belian!”
Kehitaman warna kulit, kerendahan kasta dan bangsa, serat kehinaan dirinya di antara manusia selama itu sebagai budak belian, sekali-kali tidaklah menutup pintu baginya untuk menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinan, kesucian dan kesungguhannya setelah ia memasuki agama Islam. Bilal bin Rabah mampu mencapai derajat keimanan yang tidak mungkin dicapai oleh lainnya. Ia menjadi mudzin pertama bagi Rasulullah dan Islam, suatu amal yang menjadi incaran bagi setiap pemimpin dan pembesar Quraisy yang telah masuk Islam dan menjadi pengikut Rasul.
Kehidupannya tidak berbeda dengan budak biasa. Hari-harinya berlalu secara rutin tapi gersang, tidak memiliki sesuatu pada hari itu, tidak pula menaruh harapan pada hari esok. Ia seorang Habsyi dari golongan kulit hitam. Takdir telah membawa nasibnya menjadi budak dari Umayah bin Khalaf, salah seorang pemuka Bani Jumah di kota Mekah, karena ibunya salah seorang hamba sahaya mereka.
Pada suatu hari, Bilal bin Rabah melihat nur Ilahi dan mendengar imbauan Rasul dalam lubuk hatinya yang suci murni. Maka ia mendapatkan Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya. Dan tidak lama antaranya, berita rahasia keislaman Bilal terungkaplah. Beredar di antara kepala tuan-tuannya Bani Jumah, yakni kepala-kepala yang selama ini ditiup oleh kesombongan dan ditindih oleh kecongkakan. Sang majikan, Umayah bin Khalaf, yang menganggap keislaman seorang hambanya sebagai tamparan pahit yang menghina dan menjatuhkan kehormatan mereka semua.
Bilal bin Rabah tidak saja beroleh kedudukan yang merupakan kehormatan bagi agama Islam, tetapi juga merupakan kehormatan bagi perikemanusiaan umumnya. Ia telah menjadi sasaran berbagai macam siksaan sebagai dialami oleh tokoh-tokoh utama lainnya. Seolah Allah telah menjadikan sebagai tamsil perbandingan bagi umat manusia, bahwa hitamnya warna kulit dan perbudakan, sekali-kali tidak menjadi penghalang untuk mencapai kebesaran jiwa, asal saja ia beriman dan taat kepada Tuhannya serta memegang teguh hak-haknya.
Bilal telah memberikan pelajaran berharga kepada orang-orang yang semasa dengannya, juga bagi orang-orang di segala masa; bagi orang-orang seagama dengannya, bahkan bagi pengikut-pengikut agama lain; suatu pelajaran berharga yang menjelaskan bahwa kemerdekaan jiwa dan kebebasan nurani, tak dapat dibeli dengan emas separuh bumi, atau dengan siksaan bagaimana pun dahsyatnya. Maka budak Habsyi yang lemah tak berdaya ini telah dijadikan oleh Rasulullah dan agama Islam sebagai guru bagi seluruh kemanusiaan dalam soal menghormati hati nurani dan mempertahankan kebebasan serta kemerdekaannya.
Pada suatu ketika, di tengah hari bulat, waktu padang pasir berganti rupa menjadi neraka jahannam, mereka membawa Bilal keluar, lalu melemparkannya ke pasir yang bagai menyala dalam keadaan telanjang, kemudian beberapa orang mengangkat batu besar panas laksana bara, dan menjatuhkannya ke atas tubuh dan dadanya. Siksaan kejam dan biadab itu mereka ulangi setiap hari, namun itu membuat semakin dalam keimanannya. Dalam deraan sakit tak terkira, ia mengulang-ulang senandungnya yang abadi: “Ahad…! Ahad…! Allah Yang Maha Tunggal…! Allah Yang Maha Tunggal…!
Waktu pagi hampir berlalu, waktu dhuhur dekat menjelang, dan Bilal pun kembali dibawa ke padang pasir, tetapi tetap sabar dan tabah, tenang tak tergoyah. Sementara mereka menyiksanya, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Shiddiq, serunya: “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?!” Kemudian katanya kepada Umayah bin Khalaf: “Terima ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, dan bebaskan ia…!”
Hati Umayah lega dan merasa amat beruntung demi didengarnya Abu bakar hendak menebus budaknya. Ia telah berputus asa akan dapat menundukkan Bilal. Apalagi mereka adalah orang-orang saudagar, dengan dijualnya Bilal mereka melihat keuntungan yang tidak akan diperoleh dengan jalan membunuhnya. Dijualnyalah Bilal kepada Abu Bakar yang segera membebaskannya, dan dengan demikian Bilal pun tampillah mengambil tempatnya dalam lingkungan orang-orang merdeka.
Kemudian pergilah Abu Bakar bersama sahabatnya itu kepada Rasulullah saw dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasan budak Habsyi, Bilal bin Rabah. Maka, saat itu pun tak ubahnya bagai hari raya besar juga.
Muadzin Pertama dan Utama Rasulullah
SETELAH Rasulullah Saw dan Kaum Muslimin hijrah dan menetap di Madinah, beliau pun mensyariatkan adzan untuk melakukan shalat. Maka siapakah kiranya yang akan menjadi muadzin untuk shalat itu sebanyak lima kali dalam sehari semalam, yang suara takbir dan tahlilnya akan berkumandang ke seluruh pelosok?
Pilihan Rasulullah jatuh kepada Bilal bin Rabah sebagai muadzin pertama dalam Islam. Dengan suaranya yang merdu dan empuk diisinya hati dengan keimanan dan telinga dengan keharuan. Seruannya pun menggema menggetarkan rasa keimanan.
Bilal melanjutkan hidupnya bersama Rasulullah saw dan ikut ambil bagian dalam semua perjuangan bwersenjata yang dialaminya. Ia tetap menjadi muadzin, menjaga serta menyemarakkan syiar agama besar ini, yang telah membebaskan dari kegelapan kepada cahaya, dari perbudakan kepada kemerdekaan.
Pada perang Badar yang terkenal itu, Bilal sangat berjasa membawa kemenangan. Salah satu pimpinan perang di pihak Quraisy, yakni Umayah bin Khalaf, yang merupakan mantan majikannya yang kejam, berhasil dibinasakan Bilal.”Ini dia gembong kekafiran, Umayah bin Khalaf! Biar aku mati daripada orang ini selamat…!”
Hari-hari berlalu, dan Mekah dibebaskan! Dengan mengepalai sepuluh ribu Kaum Muslimin, Rasulullah memasuki Mekah, bersyukur dan mengucapkan takbir. Beliau langsung menuju Ka’bah yang telah dipadati berhala oleh Quraisy dengan jumlah bilangan hari dalam setahun. Rasulullah memasuki Ka’bah dengan Bilal sebagai teman, untuk menghancurkan berhala-berhala itu.
Rasulullah menyuruh Bilal naik ke bagian atas masjid untuk mengumandangkan adzan. Maka Bilal pun adzan….dan amboi…..alangkah mengharukan saat itu. Gerakan kehidupan di Mekah terhenti, dan dengan jiwa yang satu, ribuan Kaum Muslimin dengan hati khusyu’ dan secara berbisik mengulangi kalimat demi kalimat yang duiucapkan Bilal.
Kedudukan agama Islam semakin tinggi, demikian pula halnya Kaum Muslimin, taraf dan derajat mereka ikut naik. Bilal pun semakin lama semakin dekat di hati Rasulullah saw yang menyatakan sebagai “seorang laki-laki penduduk surga”. Tetapi sikapnya tidak berubah, tetap seperti biasa, mulia dan baik hati yang selalu memandang dirinya tidak lebih dari “seorang Habsyi yang kemarin menjadi budak belian”.
Rasulullah pergi meninggalkan alam fana dan naik ke rafiqul a’la dalam keadaan ridlo dan diridloi, dan penanggung jawab Kaum Muslimin dibebankan di atas pundak khalifah Abu Bakar as-Shiddiq. Bilal pun pergi mendapatkan khalifah Rasulullah, berpamitan untuk berjuang di jalan Allah menghabiskan sisa hidupnya. Dia pergi ke Suria dan menetap di sana sebagai pejuang dan mujahid.
Adzannya yang terakhir, ialah ketika Umar sebagai Amirul Mukminin datang ke Syria. Orang-orang menggunakan kesempatan tersebut dengan memohon kepada khalifah untuk meminta Bilal menjadi muadzin bagi satu shalat saja. Umar memanggil Bilal, ketika waktu shalat telah tiba, maka dimintanya ia menjadi muadzin.
Bilal pun naik ke menara dan adzanlah….Sahabat-sahabat yang pernah mendapati Rasulullah di waktu Bilal menjadi muadzinnya sama-sama menangis mencucurkan air mata, yang tak pernah mereka lakukan selama ini. Sedang yang paling keras tangisnya di antara mereka ialah Umar.
Bilal berpulang ke rahmatullah di Syria sebagai pejuang di jalan Allah seperti diinginkannya. Dan di bawah bumi Damsyiq, sekarang terpendam kerangka dan tulang belulang suatu pribadi yang besar di antara pribadi-pribadi manusia, yang amat teguh dan tangguh pendiriannya dalam mempertahankan aqidah dan keimanan.* Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah” - kisuta.com


