Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Abu Dzar Al-Ghifari

Si Pemberani Melawan Kebathilan

Jumat, 1 Juli 2016

KISUTA.com - Pengamatannya sangat tajam tentang kebenaran dan keberaniannya melawan kebathilan sangat menakjubkan. Demikian Rasulullah SAW menggambarkan sosok seorang sahabatnya, Abu Dzar Al-Ghifari yang berasal dari suku Ghifar, suku yang selalu menjadi tamsil perbandingan dalam melakukan perjalanan luar biasa, karena kemampuan mereka menempuh jarak.

Abu Dzar Al-Ghifari yang nama aslinya Jundub bin Janadah adalah sahabat Rasullullah yang masuk Islam saat agama ini baru lahir. Keislaman Abu Dzar termasuk dalam barisan terdepan, urutannya di kalangan muslimin adalah yang kelima atau keenam. Saat itu Rasulullah masih menyampaikan dakwah secara berbisik-bisik. Dibisikkannya kepada Abu Dzar dan kepada lima orang lainnya yang telah iman kepadanya.

Perjalanan Abu Dzar menjadi seorang muslimin diawali dari pengamatannya yang tajam tentang kebenaran dan menentang kebathilan . Menempuh perjalanan panjang, akhirnya Abu Dzar bertemu Rasulullah dan menyatakan keinginannya masuk agama Islam. Saat Abu Dzar mengatakan niatnya masuk agama Islam.

Rasululllah sangat kagum dengan keinginannya itu. Di saat agama Islam baru saja lahir dan berjalan sembunyi-sembunyi, ada di antara orang Ghifar sengaja datang untuk masuk Islam. “Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepada siapa saja yang disukainya,” demikian sabda Rasulullah saat menerima Abu Dzar ke dalam Islam.

Setelah membaca syahadat, keimanannya kepada Allah SWT semakin besar dan keinginannya untuk menyebarkan agama Allah ini semakin tak terbendung. Sayangnya, saat itu agama Islam masih disebarkan secara sembunyi-sembunyi. Melihat masyarakat sekitarnya memuja berhala, sementara dirinya harus memendam keimanan di dalam dada, pria pemberani ini tak kuat menahan keinginannya untuk mengumandangkan agama Islam.

“Demi Tuhan yang menguasai nyawaku, saya takkan kembali sebelum meneriakkan Islam dalam masjid,” begitu tekadnya.

Tanpa sepengetahuan Rasulullah SAW, Abu Dzar mendatangi Masjidil Haram dan sekeras-kerasnya menyerukan suaranya, “Asyhadu alla ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah”. Teriakan ini merupakan teriakan pertama tentang agama Islam yang menentang kesombongan orang-orang Quraisy.

Kenekadan Abu Dzar dibayar dengan kemarahan orang-orang musyrik yang mengepung dan memukulnya hingga tak sadarkan diri. Penganiayaan yang dialaminya sama sekali tidak membuat Abu Dzar menutup mulut meneriakkan kebenaran, justru sebaliknya hal ini dirasakannya sebagai manisnya penderitaan dalam membela agama Islam.

Kerja keras Abu Dzar dalam memancarkan cahaya Islam membuahkan hasil, tidak hanya kaumnya yang satu persatu masuk Islam, namun orang-orang dari suku Aslam pun satu persatu menyatakan diri masuk Islam.

Benar apa yang disampaikan Rasulullah SAW, Allah menunjuk siapa yang Ia kehendaki dan Abu Dzar salah seorang yang dikehendaki Allah beroleh petunjuk, orang yang dipilihNya mendapat kebaikan.

Si Pemberani yang Bersahaja

ABU Dzar Al-Ghifari masuk agama Islam pada saat agama ini baru lahir sehingga syiar masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Oleh karena agama ini belum saatnya disebarkan secara terang-terangan, oleh Rasulullah SAW, Abu Dzar diperintahkan untuk pulang kepada keluarga dan kaumnya, sampai didengarnya nanti Islam lahir secara terang-terangan.

Abu Dzar menuruti perintah Rasulullah, menemui keluarga dan kaumnya. Kepada mereka, Abu Dzar menceritakan tentang Nabi yang baru diutus Allah, yang menyeru agar mengabdi kepada Allah YME dan membimbing mereka supaya berakhlak mulia. Kepada kaumnya, Abu Dzar mencoba memancarkan cahaya Islam, sehingga satu persatu kaumnya masuk Islam. Bahkan orang-orang dari suku lain seperti suku Aslam pun tertarik dengan agama Islam yang diperkenalkannya.

Keberhasilan Abu Dzar dalam menyebarkan agama Islam, dapat dilihat saat dirinya membawa orang-orang dari kaumnya, suku Ghifar dan dari suku lainnya, yaitu suku Aslam mendatangi Rasulullah di Madinah. Saat itu, suara takbir dan bunyi bergemuruh terdengar dari pinggiran Kota Madinah yang berasal dari barisan panjang yang terdiri dari para pengendara dan pejalan kaki. Rombongan itu sangat besar, sehingga dalam perjalanannya meninggalkan kepulan debu di belakangnya.

Dari pinggiran kota, rombongan masuk ke dalam kota dan dengan langkah pasti menuju Masjid Rasulullah dan tempat kediamannya. Melihat kedatangan rombongan yang terdiri dari laki-laki, perempuan, orang tua, remaja, dan anak-anak tersebut, Rasulullah sangat takjub dan kagum. Rasulullah semakin takjub dan kagum setelah mengetahui bahwa mereka adalah rombongan suku Ghifar dan suku Aslam yang telah masuk Islam dan dibawa oleh Abu Dzar.

Abu Dzar merupakan sahabat Rasulullah yang mempunyai prinsip hidup, “kebenaran yang disertai keberanian”. Pria ini akan menjalani hidupnya secara benar, tidak akan melakukan kekeliruan. Baginya, benar bathinnya maka benar pula lahirnya, benar aqidahnya maka benar pula ucapannya. kebenaran menurutnya, bukanlah keutamaan yang bisu, karena kebenaran yang bisu bukanlah kebenaran. Bagi Abu Dzar, yang dikatakan benar adalah, menyatakan secara terbuka dan terus terang apa yang hak dan menentang yang bathil serta menyokong yang betul dan meniadakan yang salah.

Karena prinsip hidup yang dimiliki Abu Dzar itulah, Rasulullah mengatakan soal sahabatnya ini, “Takkan pernah lagi dijumpai di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar”. Abu Dzar akan terus memperjuangkan kebenaran dengan berbagai cara.

Saat Rasulullah melarangnya menggunakan ketajaman pedangnya untuk menegakkan kebenaran, maka dipilihnya cara lain, yaitu dengan ketajaman lidahnya. Cara yang dipilih Abu Dzar ini merupakan buah dari latihan yang diberikan Rasulullah, karena dalam setiap kesempatan Rasulullah selalu mengingatkan Abu Dzar untuk bersabar. Maklum saja, sahabat Rasulullah yang satu ini terkenal sangat radikal dan revolusioner, sehingga perlu selalu diingatkan supaya tidak terburu nafsu.


Pedang Kebenaran Islam

SEPANJNAG hayatnya, dengan sekuat tenaga Abu Dzar memikul panji contoh utama Rasulullah dan kedua sahabatnya, yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Sikapnya inilah yang menyebabkan Abu Dzar menjadi maha guru dalam seni menghindarkan diri dari godaan jabatan dan harta kekayaan.

Abu Dzar telah menjadi seorang pahlawan yang tidak menginginkan sesuatu tujuan duniawi. Suaranya selalu menyuarakan ucapan benar dan kata-kata tegas. Abu Dzar telah mencurahkan segala tenaganya untuk melakukan perlawanan secara damai dan menjauhkan diri dari segala godaan kehidupan dunia. Ia menghabiskan sisa umurnya untuk “menjaga” sahabat-sahabatnya yang memikul panji-panji Islam, supaya tidak seorang pun menjadi pengumpul harta. Abu Dzar berkeinginan, mereka menjadi pelopor kepada hidayah Allah dan pengabdi bagi-Nya.

Abu Dzar selalu berusaha untuk mengingatkan sahabat-sahabatnya akan pesan Rasulullah tentang daya tarik jabatan dan harta, “…ia merupakan amanat, dan di hari kiamat menyebabkan kehinaan dan penyesalan…, kecuali orang yang mengambilnya secara benar dan menunaikan kewajiban yang dipikulkan kepadanya…”

Menurut pria suku Ghifar ini, harta dan kekuasaan mempunyai pengaruh menentukan terhadap nasib manusia. Oleh sebab itu, setiap kebobrokan yang menimpa amanat tentang kejadian dan kekuasaan dalam soal harta, akan menimbulkan bahaya hebat yang harus segera disingkirkan.

Itulah sebabnya, hidupnya dibaktiokan untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan pengumpulan harta. Tidak salah kalu Imam Ali mengatakan, “Tak seorang pun tinggal sekarang ini yang tidak memperdulikan celaan orang dalam menegakkan agama Allah, kecuali Abu Dzar…”. Hal itu, karena dalam hidupnya Abu Dzar selalu mencoba menjalani wasiat atau nasihat Rasulullah SAW.

“Aku diberi wasiat oleh junjunganku dengan tujuh perkara. Disuruhnya aku agar menyantuni orang-orang miskin dan mendekatkan diri kepada mereka. Disuruhnya aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan bukan kepada oprang yang di atasku…Disuruhnya aku agar tidak meminta sesuatu kepada orang lain…Disuruhnya aku agar menghubungkan tali silaturahim…Disuruhnya aku mengatakan yang hak walaupun pahit…Disuruhnya aku agar dalam menjalankan agama Allah tidak takut celaan orang. Dan disuruhnya aku memperbanyak menyebut, “Laa haula walaa quwwata illa billah”.

Sampai akhir hidupnya, wasiat dari Rasulullah selalu dipegang dan dijalankannya. Abu Dzar wafat di padang pasir Rabadzah, seperti kata Rasulullah, dia wafat sebatangkara, setelah sebatangkara pula ia menempuh hidup yang luar biasa, yang tak seorang pun dapat menyamainya.

Abu Dzar merupakan contoh orang yang menyampaikan kebenaran lewat kata-katanya, bukan lewat kekerasan. Seperti sabda Rasulullah, “Takkan pernah lagi dijumpainya di bawah langit ini, orang yang lebih benar ucapannya dari Abu Dzar…”* Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup 60 Sahabat Rasulullah” - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya