Sastra & Humor
Puisi
Sketsa Biru
Minggu, 4 September 2016
kau berupaya dengan keras menarik garis
dari sudut hatimu ke sudut hatiku paling kelam,
tapi buku gambar sobek sudah, sayap burung
patah sudah. Hujan yang turun dini hari; setia
lebih dingin dari segumpal es dalam ikulkas,
kau ingat, seorang penyair membaca puisinya
untukku dalam sebuah kafe. Kau bilang sore itu,
bukankah itu isyarat cinta? Lalu mengapa kau
tersipu, dan pipimu merah saga? Apa yang
terjadi dengan dirimu? "Bagus ya, puisi yang
dica Ria," bisikku. Dan kau memalingkan
pandang matamu ke arah gelap, ke arah rimbun,
dedaunan disiram remang lampu jalanan. "Beri
aku ruang," kau bilang saat itu. Sunyi
2003
Soni Farid Maulana - kisuta.com
BAGIKAN
BERI KOMENTAR
Terkini


