Motor dan Predator
KISUTA.com - Julukan rametuk atau siraru ditujukan pada motor. Kedua nama tadi, merupakan serangga yang suka
bergerombol. Persis seperti motor-motor yang kini merajai jalanan. "Setiap hari ada 300 motor baru melaju di jalan raya," ujar Kasatlantas Polwiltabes Bandung Ajun Komisaris Besar Herukoco, beberapa waktu lalu, ketika sosialisasi pemakaian helm standar.
Dari kiprah polisi ini, saya ingin memberi apresiasi acungan jempol. "Polisi baik ya," begitu saya katakan meniru iklan promosi sebuah kartu seluler. Betapa tidak, sebab dengan pemakaian helm standar, pengendara sepeda motor dapat terhindar dari kematian akibat kecelakaan yang sering terjadi.
Sayangnya, pengendara sepeda motor teu ngeuh, tidak sadar. Helm yang digunakan pun seenaknya. Jika bukan helm batok, digunakan helm sepeda. Keduanya bukanlah pelindung yang aman bagi pengendara sepeda motor.
Lebih celaka lagi, banyak orang tua yang tak bijak. Mereka membiarkan anak-anaknya mengendarai motor. Padahal jangankan sampai cukup umur untuk mendapatkan SIM, kaki anaknya belum sampai menjejak jalan jika mengendarai motor, sudah diberi izin untuk mengemudikan. Apalagi paham aturan rambu-rambu lalu lintas.
Satu hal lagi, motor melahirkan generasi malas. Menempuh jarak pendek pun, harus pakai motor. Jika sudah demikian, lahir generasi yang mudah kena penyakit. Akibat jarang olah raga. Padahal olah raga yang paling murah adalah jalan kaki. Keberadaan motor ini, bisa dibilang sebagai predator. Sebagai pembunuh atau pemangsa. Selain telah banyak memakan korban jiwa, keberadaan motor juga mematikan usaha angkutan kota.
Bangkar euy! keluh Acep, seorang sopir angkutan kota jurusan Margahayu Raya - Ledeng. Coba saja lihat: angkutan kota sepi penumpang. Sopir angkot malah sering nombok setoran. Jadi lama kelamaan, angkot ibaratnya "kerakap tumbuh di atas batu, mati segan hidup tak mau."
Pemerintah pun, rasanya "ogah" membangun moda tranportasi masal. Apalagi jika angkutan masal itu: murah, mudah dijangkau, dan aman.
Tak heran, pemerintahnya berpikir instan, masyarakat pun sami mawon. Toh, ketimbang membangun fasilitas angkutan massal yang (menurut pikiran para pejabat pemerintah yang instan) mahal, lebih baik mengucurkan bensin buat jutaan motor.
Masyarakat pun berpikir instan pula. Secara ekonomis perorangan, dengan motor lebih irit. Padahal motor (sejatinya) cuma bisa mengangkut dua penumpang itu, sebenarnya amat boros. Artinya, motor sebagai predator begitu banyak menghabiskan BBM. Setiap hari motor "memangsa" jutaan galon BBM hanya untuk mengangkut dua penumpang/motor.***


