Ada Apa dengan Batin para Koruptor?
KISUTA.com - Indonesia sedang tenggelam dalam duka, duka atas wafatnya mental para pemimpin negeri, duka atas wafatnya
kejujuran di hati sang koruptor. Terbukti dengan meningkatnya angka korupsi di Indonesia dari tahun ke tahun.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah membangun sebuah lembaga yang tepat untuk membunuh korupsi di negeri yang subur ini, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Setidaknya dengan adanya lembaga ini, mereka memikirkan beberapa risiko besar yang akan mereka dapatkan jika berbuat suatu tindakan yang hina seperti mendapat dosa yang sangat besar, nama baik akan tercemar, tinggal di bui sampai akhir hayat, dan meninggalkan kehidupan normal yang telah dijalani dengan tenang bersama keluarga, serta tentu saja perang batin karena pasti ada sisi baik yang menentang setiap niat buruk yang akan kita perbuat.
Para koruptor Indonesia sepertinya telah mengetahui cara kerja KPK, sehingga mereka bisa membuat berbagai rekayasa cerita dan rencana memutarbalikkan fakta. Meski begitu, seberapa lihainya koruptor merekayasa data dan cerita, tetap saja bangkai busuk tercium baunya. Maka pada tahun 2013, banyak sekali kasus korupsi yang telah lama terkubur mulai terungkap dengan jelas, meskipun masih perlu proses penyelidikan yang lebih dalam.
Jika koruptor lebih pintar, maka penyidikpun harus lebih cerdas dalam mengungkap kasus-kasus korupsi. Jika para penegak hukum tidak bisa bertindak cepat dan tegas, tentu para koruptor bisa berlenggang bebas memboyong uang negara. Namun sangat disayangkan bahwa kini penegak hukumpun kecanduan merampas uang rakyat, contohnya para penegak hukum yang ada di Kejaksaan Agung turut menerima suap dari para koruptor yang terancam dipenjara. Sungguh memalukan dan memilukan mental para penegak hukum kita. Sesungguhnya tanggung jawab mereka dalam menjalani tugas sangat berat, sehingga benar-benar harus bijaksana dalam mengambil keputusan. Namun sepertinya mereka lupa akan tanggung jawab yang besar itu, di pikiran mereka hanya uang, uang, dan uang.
Selanjutnya, gudang para koruptor terdapat di DPR, sungguh miris karena kepanjangan dari DPR adalah dewan perwakilan rakyat bukan DEWAN PERWAKILAN RAKUS. Semestinya para anggota DPR itu memiliki jiwa kerakyatan yang besar dan mampu membela hak-hak rakyat yang telah memberi amanah kepada mereka. Sayangnya mereka sudah terlena dengan harta dan pundi-pundi yang akan memberi semua apa yang mereka butuhkan, kecuali ketentraman.
Mungkin kejujuran sudah sangat mahal harganya di Indonesia, sehingga para pejabat dan penegak hukum yang kaya rayapun tak mampu membeli kejujuran itu. Jika diprediksi warna batin mereka saat ini berwarna abu yang melambangkan kegalauan. Batin mereka galau karena susah menimbang mana yang benar dan mana yang salah, tetapi kegalauan para pejabat di Indonesia mengakibatkan dampak buruk dengan tidak adanya pilihan atau terdesak, sehingga yang salahpun dianggap halal dan sah.
Ada pepatah mengatakan, majunya suatu negara tidak ditentukan dengan kualitas pemerintahnya, tetapi kualitas rakyatnya. Artinya, kita tidak bisa selalu menuntut pemerintah harus sempurna, tetapi kita sebagai rakyat Indonesia juga harus berkaca apa yang sudah kita beri pada negara kita. Sempurna itu soal gampang, yang menjadi masalah adalah rakyat harus mampu memberi dukungan dan keyakinan kepada para pejabat bahwa mereka mampu berlaku adil dan jujur dalam menjalankan tugasnya.
Mari kita hentikan demo yang anarkis dalam mengungkapkan pendapat kita, kita mulai saja dengan doa agar para pejabat dan penegak hukum kita sadar akan pentingnya kejujuran dalam dunia pekerjaan mereka. Kitapun sebagai rakyat Indonesia harus mengaplikasikan sifat jujur dalam kehidupan sehari-hari.*** Penulis adalah Mahasiswa International Program on Science Education -Universitas Pendidikan Indonesia.


