Kamis, 25 Juni 2026
Herbal & Kesehatan
Tips Kesehatan

Atasi Sakit Maag dengan Talas

Rabu, 24 Januari 2018

KISUTA.com - "Punya penyakit maag? Sering-seringlah makan umbi talas yang direbus atau dikukus,” kata Deni Ruhimat, bekas wartawan, yang berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Deni mempunyai resep tersebut dari mendiang kakeknya yang mempunyai buku kuno tentang pengobatan alami atau yang sekarang dikenal dengan istilah pengobatan herbal.

Menurut Deni, talas, baik umbinya, batangnya dan daunnya, mengandung lendir yang memiliki kandungan getah (kalsium oksalat) yang apabila kena badan menyebabkan gatal. Kandungan getah yang menyebabkan gatal dan lendir inilah yang bisa menyembuhkan penyakit maag. “Tentu saja jenis talasnya yang bisa dikonsumsi,” kata Deni.

Di masyarakat Sunda memang sejak dahulu kala dikenal dua jenis talas yang biasa ditanam: taleus sente (urang Sunda menyebutnya taleus) dan talas biasa. Selain itu ada juga yang disebut taleus hideung yang batangnya hitam, hideung artinya hitam. Batang taleus hideung biasanya dipakai untuk melumpuhkan ular, dan konon orang yang kesurupan dipukul taleus hideung akan segera sembuh.

Taleus sente ukurannya lebih besar dan tinggi, daunnya lebih lebar, kalau hujan daunnya sering dipakai untuk payung. Taleus sente tidak bisa dikonsumsi. Daun dan batangnya untuk pakan ikan gurami. Batangnya dipotong kira-kira lima lima senti dari pangkalnya, kemudian dipotong kecil-kecil. Potongan batang dan daunnya ditaburkan di kolam.

Kenapa batangnya dipotong kecil-kecil, menurut Deni, agar banyak keluar getah. Ikan gurami, agar sehat, tidak mudah kena penyakit, cepat besar, perlu dirangsang dengan dedaunan yang mengandung zat yang menyebabkan gatal. Karena itulah, ikan gurami juga sering diberi makan daun pecah beling. Batang bambu dan daunnya pun kerap ditaruh di atas kolam.

Talas biasa, talas yang hanya disebut taleus tanpa diembel-embel nama lain, bisa dimakan, tentu saja setelah dimasak dulu, dari mulai daunnya, batangnya dan umbinya. Ukurannya lebih kecil dari taleus sente. Biasanya ditanam berjajajar di pematang sawah sebagai tanaman sayuran dengan jarak dua puluh senti, ditanam setelah selesai menanam padi.

Di pedesaan, umbi talas dimasak dengan cara dikukus, direbus, dibubuy (dimasukan ke dalam abu panas yang diatasnya bara api), dan digoreng. Umumnya dikukus, sebelumnya dikupas dulu kulitnya dan dipotong-potong. Setelah masak, kemudian diberi parutan kelapa yang diberi garam secukupnya. Jenis makanan ini oleh orang Sunda dinamakan urab taleus.

Daunnya dibuat buntil, dipakai membungkus parutan kelapa yang dicampur dengan ikan teri dan petai cina (peuteuy selong) serta bumbu, diikat dengan tali bambu, kemudian direbus. Air rebusanya pun diberi penyedap. Adapun batangnya dibuat sayur yang oleh orang Sunda disebut “angeun lompong”, biasanya pakai santan yang kental dan tanpa bumbu penyedap buatan pabrik.
Umbi talas menurut para ahli pangan memiliki sumber gizi seperti nutrisi, serat, protein, lemak, abu, fosfor, kalsium, zat besi, vitamin B, vitamin C, mineral; senyawa villose, saponisi dan polifenol. Kandungan gizi seperti ini membuat umbi talas berkasiat menjaga kesehatan jantung, perawatan tubuh, pencernaan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Kata para ahli pangan, umbi talas bersifat anti-inflamasi yang beguna untuk mencegah dan mengatasi peradangan pada persendian akibat asam urat, melancarkan sistem pencernaan, menjaga kesehatan jantung dan mencegah stroke, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, sumber tenaga, menguatkan persendian akibat asam urat, dan menjaga tubuh dari berbagai jenis kanker.

Lompong atau batang talasnya pun mengandung gizi yang sangat banyak. Dalam 100 gram lompong mengandung energi sebesar 40 kkal, karbohidrat 7,4 gram, lemak 0,8 gram, protein 3 gram, kalsium 76 mg, fosfor 59 mg, dan zat besi 1 mg. Lompong juga mengandung vitamin A sebanyak 2000 IU, vitamin B1 0,08 mg, dan vitamin C 31 mg. 

Selain itu lompong mengandung serat yang cukup tinggi yang sangat baik untuk pencernaan. Serat mampu mengoptimalkan usus dalam mencerna makanan dan menyerap gizi. Serat juga mampu melancarkan pembuangan sisa makanan atau buang air besar (BAB). Oleh karena itu, lompong dapat menjadi salahsatu solusi masalah pencernaan.

Di padesaan, terutama jaman dahulu, kulit lompong dipakai untuk membungkus luka, termasuk luka bakar, seperti halnya batang daun pisang atau antanan. Menurut hasil penelitian, lompong mengandung zat saponin yang berfungsi sebagai antiseptik. Luka tersayat pisau misalnya, dengan dibalut kulit batang talas, darah akan berhenti keluar dan mencegah infeksi.

Oleh karena kandungan gizi yang berlimpah serta khasiatnya banyak, talas yang nama ilmiahnya Colocasia esculenta L bangsa Belanda waktu menjajah Nusantara menaruh perhatian yang besar pada tanaman asli Asia Tenggara ini. Talas bukan hanya dapat dijadikan makanan pokok tetapi juga dapat dijadikan sebagai obat, di antaranya dapat mengatasi dan menyembuhkan penyakit maag.

“Bangsa Belanda memandang talas merupakan tanaman yang penting untuk dikembangkan,” kata Deni. Di Bogor, bangsa Belanda meneliti dan mengembangkan talas. Maka lahirlah talas yang dinamakan talas bogor yang ukurannya lebih besar, baik umbinya, batangnya mapun daunnya, dari talas yang biasa ditaman di pematang sawah.* Priatna - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya