Makanan dan Aktivitas yang Bisa Menunda Pikun
KISUTA.com - Ada apa dengan diriku? Rencananya hari ini ke bank mau transfer uang. Sampai bank, ketika membuka tas, yang ada hanya handuk saja, sedangkan dompet dan buku tertinggal di rumah. Ini akibatnya jika sering berganti tas saat akan pergi.
Sampai di rumah, menenangkan diri sambil minum kopi. Baru akan menyeruput kopi yang masih mengepul, tiba-tiba teringat kalau hari ini harus bayar tagihan listrik. Melepaskan kenikmatan menyeruput kopi, cepat-cepat melesat ke tempat pembayaran listrik. Kali ini tidak lupa membawa dompet, tetapi ketika akan membayar, ternyata tagihan listriknya tertinggal di atas kulkas. Ya ampun, ada apa dengan diriku?
Kalimat pembuka di atas adalah pengalaman seorang sahabat sewaktu tinggal di Nagasaki. Dia curhat karena sudah sering kali melakukan hal yang sama. Atas kealpaannya tersebut, sang sahabat menyalahkan dirinya.
Tanpa disadari sahabat saya ini sebenarnya sedang menuju ke arah pikun. Semula dia tidak percaya ketika saya ungkapkan kemungkinan tersebut.
Menurutnya, pikun merupakan bagian dari usia tua, tidak mungkin dirinya yang masih muda sudah pikun.
Sebenarnya, pikun tidak harus terjadi pada orang yang usianya sudah lanjut, di atas 50 tahun. Tak dipungkiri, saat usia sudah di atas 30 tahun, fungsi otak secara perlahan akan mengalami penurunan. Hal ini terjadi akibat bergugurannya jumlah sel otak, yang celakanya tidak bisa digantikan dengan yang baru.
Penurunan fungsi otak ditandai dengan hal-hal berikut:
- penurunan daya ingat
- penurunan bernalar dan menilai sesuatu
- kehilangan orientasi tempat yang sudah dikenalnya
- perubahan kepribadian seperti lebih pemarah atau kurang respon.
Bagi orang yang mengalami penurunan fungsi otak, biasanya hanya beberapa saat lupa terhadap sesuatu hal. Berbeda dengan orang yang sudah pikun, mereka akan sulit mengingat sesuatu, walaupun sudah berusaha keras mengingatnya. Biasanya, kejadian-kejadian baru sangat sulit diingat. Justru kejadian yang sudah lama, masih diingat.
Kondisi kesehatan sangat mempengaruhi proses menuju kepikunan. Gangguan kesehatan yang mempercepat kepikunan diantaranya adalah hipertensi, diabetes melitus, dan hiperkolesterolemia (kelebihan kolesterol yang bisa berdampak pada penyempitan pembuluh darah ke jantung).
Kepikunan tak bisa dilepaskan dari pola makan, otak memang memerlukan suplai nutrisi. Nutrisi yang dibutuhkan adalah makanan yang tidak mengandung lemak jenuh seperti yang terdapat pada gajih atau makanan gorengan. Prinsipnya adalah gizi seimbang, yaitu makanan yang mengandung karbohidrat, protein nabati maupun hewani, lemak tidak jenuh, vitamin dan mineral. Sementara iktu, makanan yang sangat dibutuhkan untuk menangkal pikun, adalah vitamin B12 (misalnya hati sapi, kepiting, tiram, ikan sarden dan ikan salmon segar), asam folat (misalnya tepung kedelai, biji matahari, asparagus, wijen, kailan, brokoli, kacang mede, jamur, kacang merah dan kacang hijau), serta seng/Zn dan Omega 3 (makanan sea food).
Selain itu gingko biloba dipercaya masyarakat Jerman bisa membantu melancarkan peredaran darah menuju otak sehingga fungsi otak meningkat. Masyarakat Jepang biasanya menggunakan biji gingko biloba untuk sup.
Selain makanan, penurunan fungsi otak bisa ditunda dengan melakukan aktivitas yang melibatkan otak, seperti mengisi teka teki silang (TTS) dan membuat origami. Hal lain yang tak kalah penting, adalah menghindari stress, membuang perasaan tak berguna, dan tentunya berolah raga.* Dina - kisuta.com


