Selasa, 2 Juni 2026
Sastra & Humor
Lawan Covid-19

Taktik Emil Melawan Corona

Minggu, 3 Mei 2020

KISUTA.com - Sejak kasus pertama Covid-19 diumumkan Presiden Joko Widodo pada awal Maret 2020 lalu, seluruh daerah menyiapkan strategi untuk berperang melawan virus corona. Mulai penerapan protokol kesehatan, hingga menyiapkan jaring pengamanan sosial untuk warga.

Jawa Barat jadi salah satu daerah dengan angka kasus tertinggi mengingat sebagai wilayah terdekat dengan Jakarta sebagai episentrum penyebaran. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun punya tantangan besar untuk menyelamatkan wilayah, populasi seperempat penduduk Indonesia itu.

Pria yang akrab disapa Emil ini pun buka-bukaan kepada Kompas.com soal perjuangan menangani Covid-19 di Jabar, usai mengumumkan pelaksanaan PSBB tingkat Provinsi Jawa Barat, Sabtu (3/5/2020).

Diungkapkan Emil, Covid-19 ini tidak memilih geografis tidak memilih ekonomi. Dia menghancurkan semua lini kehidupan di semua negara.

Mungkin teori menduga kalau negaranya kuat ekonominya bagus covid-nya cepat beres. Ternyata tidak. Kita menduga mereka yang kapasitas kesehatan dan teknologinya canggih bisa lebih cepat, ternyata tidak. Jadi ini mengindikasikan, level Presiden, Gubernur, wali kota di semua negara itu sama.

Pada Maret itu, kata Emil, kondisi psikologi waswas sambil berharap mitos corona mati di suhu tropis dan lain-lain. Karena tidak ada pengalaman, terus terang seluruh sistem ini tidak mengkondisikan diri pada kesiapan-kesiapan yang seharusnya. Menyiapkan APD, ruang isolasi, ventilator, pengetesan, tidak ada sama sekali.

Jadi semua baru bergerak pada hari pertama diumumkan oleh Presiden. Dari situ mulai kita melihat bahwa Jabar pasti masuk yang paling besar (kasusnya) karena dekat dengan episentrum yaitu Jakarta.

"Covid-19 ini penyakit kerumunan, semakin padat wilayah semakin banyak covidnya. Maka di Jabar pun yang banyak ditemukan mayoritas di wilayah zona metropolitan Bodebek, Bandung Raya. Makin ke kabupaten makin sedikit," kata Emil.

Strategi

Perang melawan covid ini, Emil membagi tiga layer atau tiga benteng. Yakni pencegahan, pelacakan dan perawatan. Jangan sampai Covid-19 ini langsung lompat menembus benteng satu dua ke benteng tiga yang mengakibatkan pasti rumah sakit keteteran.

"Nanti seperti Ekuador tidak ada pencegahan, pelacakan, langsung bergelimpangan. Karena itu Jabar merespons isu Covid-19 ini dengan belajar dari negara yang baik menurut WHO," jelas Emil.

Makanya sampai sekarang yang dipakai di Jawa Barat adalah Korea Selatan. Di mana tidak ada lockdown tapi memasifkan tes dan mendisiplinkan warganya. Hari ini, metode itu sudah dilakukan. Kita provinsi yang banyak mengetes sudah 100 ribu dan melakukan PSBB. Per hari ini dengan pengkondisian benteng pencegahan maka kampanye PSBB dilakukan. Kalau bocor kita lokalisir di benteng kedua di-tracing, baru dari sekian persen yang positif yang betul harus butuh perawatan masuk benteng ketiga dirawat yang per hari ini 55 persen yang dipakai jadi kapasitas masih cukup.

Dan, demikian Emil, terbukti hari ini sejak adanya larangan mudik kasus menurun tajam yang menunjukkan selama ini banyak imported case. Kalau klaster di Jabar tak ditemukan lagi hanya empat kan, klaster Bogor Bogor Karawang dan Lembang. Yang ada hanya imported case dan lokal infeksi. Imported case makin menurun dengan ditutupnya pintu mudik. Maka dengan PSBB, bulan Ramadhan orang banyak di rumah, imunitas meningkat, pengetesan masif itu harapan kita dalam mengunci.

Bantuan

Menyikapi dinamika bantuan sosial di Jawa Barat, Emil menyebutkan sebelum Covid-19 hanya 25 persen warga yang disubsidi. Pasca-covid diperkirakan hanya 40 persen. Ternyata yang minta bantuan 65 persen. Jadi bisa bayangkan dua per tiga warga Jabar yang 50 juta penduduk ini minta bantuan dari negara.

"Bayangkan, kalau dibandikan dengan Korea Selatan yang sama-sama 50 juta penduduk, kan yang harus diselamatkan nyawanya sama tapi anggaran kita hanya 0,6 persen dari Korsel. Jadi ada dua wilayah penduduknya sama, yang satu modalnya 100 persen yang satu 0,6 persen. Gimana coba, harus menyelamatkan kualitas nyawanya sama, ditambah bansosnya menggerus 0,6 persen," ungkap Emil.

Meski begitu, kata Emil, dalam kondisi darurat harus cepat tanggap. "Kalau saya tak membantu duluan yang jatah provinsi sampai hari bantuan tak bisa dikirim karena data dari bawah belum beres, belum lengkap. Kalau alasan menunggu data lengkap dulu ya sudah hilang sebulan ada orang kelaparan.

"Maka kita kirim duluan dengan penjelasan bahwa yang dikirim provinsi bukan untuk semua, tapi hanya untuk seperdelapan. Karena tujuh perdelapan lagi datang dari tangan yang lain.

"Nah ini belum dipahami secara menyeluruh, mengakibatkan tujuh per delapan yang belum menerima menyangka tak kebagian. Jadi kita ini dikritik karena kecepetan kerja sebenarnya, kerja kita terlalu cepat pintu yang lain lambat. Jadi istilahnya dibully karena kerja, buat saya gak masalah," jelas Emil.

Sinergitas

Diakui Emil, sinergitas dengan daerah dalam penanganan Covid-19 sangat baik. Sebagai koordinator di Jabar sudah melakukan protokol luar biasa. Contohnya PSBB provinsi kalau berhasil 27 kota/kabupaten PSBB terbanyak se-Indonesia adalah Jabar. Justru ini contoh kita sepakat, kompak menyamakan irama maka kita berhasil membuat kebijakan yang sinkron.

"Saya lihat relatif tak ada konflik kepentingan statment dari kota kabupaten dengan provinsi. Karena kita setiap hari nelepon, komunikasi," katanya.

Hasil survei dari Lembaga Riset Repro Indonesia menyebut Jabar paling baik dalam merespons isu Covid-19. Menurut Emil, karena mereka bekerja untuk menolong rakyat, menyelamatkan nyawa warga dengan keputusan terbaik dari keterbatasan. Teknologi dimaksimalkan, kerelawanan, kecepatan mengambil keputusan seperti tes duluan.

Menurut Emil, prinsipnya lima. Pertama responsif, kalau bisa cepat tidak usah menunggu. Kedua transparan (website), Pikobar adalah bagian dari transparansi. Ketiga ilmiah, tiap hari ada expert panel, orang statistik, dokter memberi masukan. PSBB provinsi itu masukan para ahli. Keempat kolaboratif, mengajak karang taruna, PKK, membuat dapur umum dan lainnya. Kelima inovatif, industri dimanfaatkan, Biofarma bikin PCR sendiri, buat ventilator.

"Lima prinsip ini yang kami pegang setiap hari sehingga kalau diapresiasi alhamdulillah kalau kurang baik kita perbaiki," pungkas Emil.* das - kisuta.com


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya