Laut yang tak Pernah Surut
KISUTA.com - “Ia adalah seorang yang datang dari kami dan kembali kepada Ahlul Bait. Siapa pula di antara kalian yang dapat menyamai Luqmanul Hakim. Ia telah beroleh ilmu yang pertama begitu pula ilmu yang terakhir. Dan telah dibacanya kitab yang pertama dan juga kitab yang terakhir. Tak ubahnya ia bagai lautan yang airnya tak pernah kering”.
Kalimat indah di atas disampaikan Ali bin Abi Thalib, sahabat Rasulullah SAW yang memberikan gelar Salman dengan “Luqmanul Hakim”. Salman Al Farisi memang pantas mendapat gelar tersebut. Perjuangan kehidupannya yang mulia untuk mencari hakikat keagamaan yang mengantarkannya sampai kepada Allah SWT, merupakan suri teladan bagi umat Islam.
Salman menjalani hidupnya dalam kesahajaan sesuai dengan pesan Rasulullah SAW yang selalu diingatnya, “Hendaklah bagian masing-masingmu dari kekayaan dunia ini seperti bekal seorang pengendara”. Kejayaan dan kekayaan yang dialami umat Islam, tak membuat Salman berubah. Bahkan kedudukannya sebagai seorang Amir (kepala daerah) di Kota madain, tidak menjadikannya sok kuasa apalagi untuk mencari keuntungan pribadi.
Tunjangan yang diperolehnya sebagai Amir, habis disumbangkannya, satu dirham pun tak diambilnya untuk dirinya. Ia menafkahi keluarganya dari hasil menganyam daun kurma dan hasilnya pun masih disisakun untuk bersedekah.
Meskipun kedudukannya sebagai seorang Amir, namun sifatnya tidak pernah berubah. Kesederhanaannya ini seperti diriwayatkan Hisyam bin Hisan dari Hasan, “Tunjangan Salman sebanyak lima ribu setahun, tetapi ketika berpidato di hadapan tigapuluh ribu orang, separuh baju luarnya dijadikan alas duduk dan separuh lagi menutupi badannya. Jika tunjangan keluar, maka dibagi-bagikannya sampai habis, sedang untuk nafkahnya dari hasil kedua tangannya”.
Tak heran bila orang yang tak mengenalnya, menganggapnya sebagai orang biasa. Seperti pernah terjadi, ketika seorang pria Syiria yang membawa sepikul buah tin dan kurma bertemu dengannya di perjalanan. Ketika dilihatnya seorang pria yang tampaknya orang biasa dan dari golongan tak berpunya, maka disuruhnya pria itu untuk membawa buah-buahan dengan imbalan. Salman yang dimintai tolong oleh pria Syiria itu memenuhinya dan mereka berdua berjalan beriringan.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu rombongan. Salman memberi salam kepada mereka yang dijawab mereka, “Juga kepada Amir, kami ucapkan salam”. Mendengar jawaban tersebut, terkejutlan pria Syiria yang tidak menyangka kalau orang yang menolongnya adalah seorang Amir dari Kota Madain. Mengalirlah permintaan maaf kepada Salman namun Salman tetap pada keputusannya menolong pria Syiria, “Tidak, sebelum kuantarkan sampai ke rumahmu”. Itulah Salman yang amat zuhud kepada dunia, menolak harta, kekayaan, dan kesenangan dengan bertahan dalam kehidupan bersahaja.
Itulah kisah Salman Al-Farisi, seorang sahabat Rasulullah yang karena kesungguhannya diberikan Allah ganjaran setimpal dipertemukan dengan al haq dan dipersuakan dengan Rasul-Nya.* Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah" - kisuta.com


