Semangat Kebangkitan, Semangat Menjaga Persatuan
KISUTA.com - Staf Pengajar S3 Pendidikan Sejarah, FKIP, Universitas Sebelas Maret (UNS) Dr. Hieronymus Purwanta mengemukakan, terkait peringatan Hari Kebangkitan Nasional 2020, semangat menjaga persatuan anak-anak muda pendiri Budi Utomo perlu diwarisi dan menjadi perhatian bersama.
"Menurut Anthony D. Smith dalam bukunya yang berjudul Nationalism and Modernism dewasa ini nasionalisme tidak lagi diwujudkan dengan menggunakan kekerasan melawan penjajahan, tetapi dengan mengembangkan persatuan, kedaulatan dan identitas bangsa," ungkap Purwanta, di Kampus UNS, Solo, Rabu (20/5).
Menurut Purwanta yang juga pakar pendidikan, persatuan harus menjadi perhatian utama, karena persatuan merupakan landasan bersama untuk memperkuat kedaulatan bangsa dan identitas nasional. Oleh karena itu, semua pemimpin bangsa Indonesia dari sejak pergerakan nasional sampai sekarang selalu menekankan pentingnya persatuan. Bahkan oleh karena sangat pentingnya persatuan, sila ke tiga Pancasila pun mengamanatkan persatuan Indonesia.
Meski demikian, kita sadari bersama, bahwa membangun persatuan adalah tidak mudah. Apalagi bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang beragam, baik suku, adat istiadat, bahasa maupun agama. Pertarungan dalam Pilkada DKI tahun 2017 dan berlanjut pada Pemilihan Presiden 2019, sampai sekarang masih menyisakan pengkutuban dalam masyarakat.
"Meskipun tidak lagi menggunakan nama cebong dan kampret, pengkutuban itu masih tampak dengan digunakannya istilah kadrun dan buzzerrp," ujar Purwanta.
Oleh karena itu, kata pakar Pendidikan Sejarah UNS, peringatan hari kebangkitan nasional ini akan menjadi momentum yang sangat baik untuk merajut kembali persatuan dan bersama-sama bangkit menghadapi problem Covid 19. Apalagi perayaan kali ini beriringan dengan hari raya Idul Fitri yang diyakini sebagai hari kemenangan umat muslim melawan godaan egoisme.
"Hanya dengan melepaskan egoisme pribadi dan kelompok, kebangsaan Indonesia dapat berkembang untuk bersama-sama mewujudkan peri kehidupan yang adil dan makmur. Sebaliknya, apabila pengkutuban dan egoisme kelompok masih dipertahankan, akan mustahil bagi Indonesia untuk maju sejajar dengan bangsa-bangsa lain," ujarnya.* Eko Prasetyo - kisuta.com


