Kamis, 30 April 2026
Sosok Inspirasi
Abu Sufyan bin Harits

20 Tahun Memusuhi dan Memerangi Islam, Menjadi Ahli Ibadat di Akhir Hayat

Minggu, 24 Mei 2020

KISUTA.com - Kisah hidup Abu Sufyan bin Harits merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka. Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintunya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri di haribaanNya, setelah penderitaan yang berlarut-larut.

Tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Abu Sufyan dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam. Yakni semenjak dibangkitkanNya Nabi SAW sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.

Abu Sufyan adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Muthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selama beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa’diyah.

Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja’far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan ketika ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah: “Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul’alamin.” Demikianlah ia melakukan perjalanan ke Madinah dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insyaf dan sadar.

Di Abwa kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya hingga bila tertangkap akan langsung menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.

Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja’far, ia berjalan kaki beberapa jauh, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama rombongan sahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.

Dengan serempak Abu Sufyan dan puteranya, Ja’far, berseru: “Asyhadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah…..” Lalu ia menghampiri Nabi.

Seraya katanya: “Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah”. Rasulullah pun menjawab, “Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!” Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: “Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini”.

Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lalu dan mengejar ketertinggalannya selama ini. Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulullah.

Ketika perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda. Pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir sahabat yang tidak kehilangan akal karena serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan dan puteranya Ja’far.

Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya. Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi, dan akhirnya Allah memberi kemenangan mutlak kepada Kaum Muslimin.

Ketika suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling, didapatinya seorang Mu’min sedang memegang erat-erat tali kekang. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, Abu Sufyan tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya. “Oh, saudaraku Abu Sufyan bin Harits…!” Demi didengarnya Rasulullah mengatakan “saudaraku”, hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira.

Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah, ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi kematian tetap menjadi tumpuan hidupnya…!* Abu Ainun/”Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah” - kisuta.com


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya