Kamis, 30 April 2026
Sosok Inspirasi
Psikolog UMS, Drs. Soleh Amini Yahman, MSi

Belajar di Rumah Diperpanjang Bisa Timbulkan DCR

Selasa, 26 Mei 2020

KISUTA.com - Masa Kejadian Luar Biasa (KLB) kota Solo diperpanjang hingga tanggal 7 Juni 2020 mendatang karena adanya pertambahan kasus positif Covif-19 di kota Solo, maka masa belajar di rumah bagi siswa atau pelajar SD, SMP, SMA/SMK di kota Solo otomatis diperpanjang pula.

"Artinya keinginan siswa untuk segera belajar bersama ibu bapak guru dan teman temannya di sekolah secara tatap muka atau aruh aruhan learning otomatis harus disimpan di hati dan pikiran masing masing," ujar Ahli Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Drs. Soleh Amini Yahman, MSi, psikolog saat menanggapi perpanjangan masa belajar di rumah, di Solo, Selasa (26/5/2020).

Sholeh Amini yang lebih diakrab dipanggil Sony mengaku khawatir kondisi ini akan menimbulkan declining social relationship(DCR). Artinya, kata Psikolog UMS yang juga anggota Dewan Pendidikan Kota Surakarta (DPKS), mereka bisa-bisa lupa nama teman temannya di sekolah atau lupa caranya bersekolah. "Oleh karena itu mari dipersiapkan konsep dan aplikasi Belajar di Rumah ( bukan libur) yang menyenangkan dan menyehatkan," ujarnya.

Untuk itu, kata Sony, hindari penggunaan kata libur untuk menyebut belajar di rumah. Tentang belajar online atau daring, jika hal itu tidak dipersiapkan secara seksama maka belajar online yang demikian ini akan merusak konstruksi psikologis peserta didik. Kognisinya (cara berfikirnya) akan mengalami regiditas (kekakuan) dan kemampuan afeksinya akan terdistorsi oleh tekanan pembelajaran yang tidak terstruktur dan banyaknya tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik atau siswa.

Oleh karena itu pembelajaran daring atau online, kata Psikolog UMS, harus dipersiapkan secara matang, cermat dan akurat, terutama dalam hal media yang akan digunakan dalam interaksi pembelajaran. Siswa harus dipastikan dapat mengoperasikan , dapat menggunakan dengan lancar media pembelajarannya. Apakah menggunakan akan Zoom meeting, openlearning, schology, windows classroom, ruang guru, WAG atau media media lainnya tidak menjadi masalah, yang penting siswa sepakat dan familier dengan media tersebut.

Materi pembelajarannya, menurut Psikolog UMS, juga urgen. Dalam hal ini, guru dalam memberikan materi pembelajarannya harus disiplin dengan berpedoman kepada silabus pembelajaran yang telah disusun dan telah disosialisikan kepada siswa pada masa-masa diawal semester sebelumnya. Guru tidak boleh berimprovisasi yang terlalu jauh dari silabi atau rencana pembelajarannya sehingga menyebabkan terjadinya inkonsistensi . "Jika terjadi inkonsistensi maka siswa akan bingung dan menjadi ragu ragu dalam mengeksekusi tugas tugas belajarnya," jelasnya.

Selanjutnya penataan tempat belajar di rumah, kata Sony, musti dipersiapkan. Apakah situasi di rumah sudah memenuhi kaidah belajar yang quit learning, pencahayaan ruangan yang cukup, sirkulasi udara yang memadai, densitas atau kepadatan yang tidak menimbulkan kebisingan (noise) dan kesemrawutan (crowded).

Dalam masa belajar di rumah ini, kata Sony, berilah siswa kesempatan juga untuk juga bersenang senang, seperti misalnya jika hari-hari akhir pekan sabtu dan minggu, janganlah ada postingan materi belajar lagi serta tugas tugas yang harus segera dikerjakan oleh siswa.

"Biarlah siswa sekedar bermain games, nonton TV, atau nonton film kesukaannya, atau bercanda dengan hewan peliharannya. Seperti kata walikota solo' siswa jangan kabanyakan PR," ujarnya.

Sony menyarankan orang tua tidak terlalu banyak turut campur dalam belajar online. Biarkan siswa untuk belajar mandiri dan membuat keputusan sendiri atas apa yang menjadi tugas-tugasnya. "Keterlibatan orang tua diperbolehkan sepanjang hanya membantu pada hal hal yang sifatnya teknis, bukan pada pengambilan keputusan atas apa dan bagaimana siswa berproses dalam belajarnya," ungkapnya.* Eko Prasetyo - kisuta.com


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya