Peran Petani Milenial ala FP UNS dan Peragi
Petani Milenial adalah petani berusia 19-30 tahun, berjiwa milenial yang adaptif dalam pemahamanan teknologi digital, sehingga tidak kaku dalam melakuakan identifikasi dan verifikasi.
KISUTA.com - Mengangkat tema Menumbuhkembangkan Petani Milenial untuk Mendukung Ketahanan Pangan, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, menggelar diskusi daring melalui Zoom Meeting. Agenda kerja sama dengan Perhimpunan Agronomi Indonesia (Peragi) Jawa Tengah tersebut dihadiri oleh peserta dari berbagai wilayah di Indonesia melalui kanal Youtube UNS, di Kampus UNS, Solo, Senin (8/6/2020).
Moderator acara, Dr. Ir. Eddy Triharyanto, MP mengemukakan, terdapat tiga pembicara yang hadir membagikan ilmu dan pengalaman di bidang pertanian. Ketiga narasumber tersebut ialah Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS., (Dosen FP UNS dan Ketua Peragi Komda Jawa Tengah), Dr. Ir. Puji Harsono, MP (Dosen FP UNS dan Praktisi Bisnis Cabe Merah), serta Widodo, S.TP (Pendamping Petani dan Petani Milenial). Selain itu hadir pula Dekan FP, Prof. Dr. Samanhudi, S.P., M.Si serta dosen-dosen dari FP UNS.
Ketua Peragi Komda Jawa Tengah, Dr. Ir. Puji Harsono, MP mengemukakan, sebagai negara agraris tentu aktivitas bercocok tanam sudah sangat dekat dengan masyarakat. Semakin berkembangnya zaman istilah-istilah dalam pertanian pun turut menyesuaikan seperti Petani Milenial.
Menurut Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) definisi dari Petani Milenial adalah petani yang berusia 19-30 tahun, berjiwa milenial yang adaptif dalam pemahamanan teknologi digital, sehingga tidak kaku dalam melakuakan identifikasi dan verifikasi. Petani memiliki peran penting untuk berkontribusi memperkuat ketahanan pangan.
Namun hal tersebut belum dipahami sepenuhnya, dimana stigma menjadi petani bukanlah prospek karir yang menjanjikan dimasyarakat. Pada poin inilah pendidikan tinggi hadir untuk mengedukasi masyarakat serta melahirkan ahli-ahli di bidang pertanian yang nantinya bisa memberikan contoh. Salah satu strategi yang bisa diterapkan untuk mendorong lahirnya petani-petani milenial adalah melibatkan mahasiswa/alumni/pemuda untuk mengintensifkan program serta pengawalan pada kegiatan pertanian.
Seperti yang diceritakan oleh Dr. Ir. Puji Harsono, MP saat ini UNS telah melakukan pendampingan terhadap petani milenial di Desa Cabeyan, Kabupaten Sukoharjo. Daerah tersebut merupakan lahan kering yang identik sulit untuk ditanami karena kurangnya pasokan air. Namun dengan berbagai cara dan usaha UNS yang mendapat dukungan dari perusahaan kuliner nasional berupaya untuk memberdayakan lahan tersebut. Cabai dipilih sebagai tanaman yang dikembangkan diwilayah tersebut dengan menerapkan berbagai tindakan supaya berhasil panen.
"Harapannya pada akhirnya bisa mengembangakn kelopok masyarakat yang aktif di dalam lahan kering tadi,"tutur Dr. Ir. Puji Harsono, MP.
Cerita lain dibagikan oleh penggiat tani di daerah Sambungmacan, Sragen yaitu Widodo, S.TP. Pada kesempatan tersebut Widodo, S.TP menceritakan kegiatan pertanian yang telah dilakukannya bersama dengan masyarakat sekitar. Terdapat sepuluh petani milenial dengan keahlian dibidang masing-masing terus berproses sampai saat ini. Keahlian tersebut diantaranya spesialis anggur ninel, spesialis hidroponik, dan spesialisasi bibit padi transplanter.
"Kami coba untuk membuat konsep terapi tanaman dengan sistem panggilan," kata Widodo, S.TP.
Konsep terapi panggilan tercetus karena selama ini banyak mendengar keluhan dari masyarakat bahwa banyak tanaman yang dibeli awalnya berbuah tetapi setelah dirawat setahun sampai dua tahun tidak mau produksi kembali. Hal inilah yang menginisiasi Widodo, S.TP dan tim untuk membuat program tersebut. Materi dan cerita yang telah disampaikan oleh pemateri disambut baik oleh peserta yang semakin ramai sampai sesi berakhir. Beberapa diantaranya bahkan antusias belajar kepada narasumber secara langsung untuk meningkatkan produksi pertaniannya.* eko prasetyo - kisuta.com


