UMS Angkat Seminar Rekayasa Pembelajaran Era Merdeka
Merdeka belajar,menurut Rektor UMS, memiliki pengembangan komponen dalam pembelajaran, beberapa di antara yaitu, model pembelajaran tidak lagi teacher center, tapi harus dua arah.
KISUTA.com - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bekerjasama dengan Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah, menyelenggarakan Seminar Online internasional. Seminar tersebut mengangkat tema 'Rekayasa Pembelajaran Era Merdeka Belajar di masa Pandemi Covid-19'. Diikuti kurang lebih sekitar 600 partisipan.
Dimoderatori oleh Dr. Anam Sutopo, M.Hum (Kepala Biro Rektorat UMS), seminar tersebut mengundang enam pemateri, yaitu Prof. Dr. Suyanto dari Majelis Dikti Litbang Muhammadiyah, Prof. Warsito selaku Atase Dikbud RI di Prancis, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., Rektor UMS sekaligus sebagai ketua ALPTK Seluruh Indonesia. Lalu Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS sekaligus Ketua ALPTK Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM), Prof. Gamal Ab Nasir dari Universitas Brunei Darussalam, dan Prof. Fauziah Ab Rahim dari Universiti Utara Malaysia.
Prof. Warsito mengatakan, di masa pandemi ini masyarakat mulai beradaptasi dengan teknologi masa kini. "Seperti sekarang ini, kita mulai belajar bersosial secara online," ungkapnya.
Warsito juga mengatakan, di era merdeka belajar, konsep pembelajaran untuk level menengah ke atas tidak lagi dengan konsep satu arah. Tetapi harus mampu menyiapkan atau mendampingi peserta didik untuk membuat masalah sendiri, kemudian bagaimana menyelesaikan masalah itu dengan sendiri atau team work, ini konsep merdeka belajar," ungkapnya.
"Kita membayangkan ke depan, mendampingi peserta didik tidak harus ada disebelahnya, tapi dari jarak jauh. Dengan merdeka belajar kita anggap peserta didik kita bukan hanya objek, tapi subjek. Justru mereka adalah agen-agen kita untuk mendapatkan ilmu pengetahuan," katanya.
Berbicara terkait rekayasa pembelajaran di era merdeka belajar, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si. menyoroti kebijakan di kampus atas istilahnya kampus merdeka.
Menurut Sofyan Anif, kebijakan kampus belajar tidak boleh terlepas dari tujuan pendidikan nasional.
"Implikasi kampus merdeka harus sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab" ujarnya.
Merdeka belajar,menurut Rektor UMS, memiliki pengembangan komponen dalam pembelajaran, beberapa di antara yaitu, model pembelajaran tidak lagi teacher center, tapi harus dua arah. "Kemudian mahasiswa lebih pro aktif dalam pembelajaran. Tindakan guru atau dosen mengajar berperan sebagai fasilitator," katanya.
Sofyan yang juga pakar pendidikan menerangkan, Paradigma pendidikan karakter, didalamnya terdapat transfer knowledge, proses sosialisasi nilai, transfer of value. "Ini bisa terjadi dari berbagai model pendidikan, seperti pendidikan nonformal, pendidikan formal dan pendidikan informal. Dalam program kampus merdeka, nanti akan terjadi inovasi pembelajaran, sehingga menghasilkan SDM unggul yang berkarakter," tandasnya.
Guru besar Manajemen Pendidikan UMS itu juga memberika masukan, pembelajaran daring di tengah masa pandemi Covid-19 paling baik menggunakan pendekatan pendidikan terpadu. "Modelnya dengan cara menyatukan berbagai tema pembelajaran, sehingga menimbulkan makna yang holistik. Mungkin bisa menggunakan pendekatan lainnya. Tapi dengan pendekatan terpadu ini, nanti akan menghasilkan peserta didik yang mampu mengembangkan kepribadian nya dan karakter lainnya," pungkas Sofyan Anif.* eko prasetyo - kisuta.com


