Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Webinar PSD LPPM UNS

Strategi Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Menghadapi New Normal

Sekalipun protokol kesehatan telah dinyatakan siap, tetapi siswa berkebutuhan khusus memiliki risiko yang lebih besar dibanding anak usia sebaya.

Kamis, 11 Juni 2020
akb.jpg
Eko Prasetyo/KISUTA.com
PROF. Munawir Yusuf sebagai pemantik diskusi.*

KISUTA.com - Pusat Studi Difabilitas (PSD) Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta telah mengadakan webinar dengan tema Strategi Pembelajaran ABK Menghadapi New Normal melalui aplikasi Zoom dan live streaming YouTube akun PSD LPPM UNS.

Webiner sebanyak 1.014 peserta melalui Google form ini, menggandeng Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) Pusat, APPKhI Jawa Tengah, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Pendidikan Menengah dan Khusus (Dikmensus) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Selain Prof. Munawir Yusuf sebagai pemantik diskusi, webinar ini menghadirkan 4 narasumber utama yakni Dr. Praptono, Irma Listyanawati, M.Si., Dr. Padmaningrum dan Ummul Mustaqimah, M.T.

Dr. Praptono selaku Direktur GTK Kemendikbud dengan ulasan strategi penyiapan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) dalam menghadapi new normal ko pandemi Covid-19. Dr. Praptono mengimbau para guru harus memastikan bahwa setiap peserta didik tetap mendapatkan kesempatan pembelajaran yang berkualitas saat pandemi berlangsung. Untuk pembukaan kembali satuan pendidikan harus memenuhi beberapa syarat seperti berada di daerah dengan status zona hijau atau biru dan adanya kesiapan sekolah.

Menurut Praptono, banyak hal yang harus disiapkan sekolah sebelum dibuka kembali pada masa Covid-19.

"Banyak hal yang harus disiapkan sekolah sebelum dibuka kembali pada masa Covid-19. Untuk SLB kegiatan tatap muka dapat diatur melalui kebijakan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah juga harus mampu berkoordinasi dengan melibatkan pihak-pihak terkait seperti guru dan orangtua siswa agar pembelajaran yang dilakukan selama masa pandemi ini dapat dikontrol dengan baik. Setiap satuan pendidikan harus paham betul mengenai syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi dalam pembukaan sekolah kembali," terang Praptono.

Adapun, kesiapan sekolah yang dimaksud adalah adanya alat-alat kesehatan, seperti alat pengukur suhu badan. Selain itu, semua warga sekolah diimbau untuk menggunakan masker dan menerapkan jaga jarak. Selain hal tersebut, guru-guru yang berumur di atas 45 tahun harus melakukan pemeriksaan kesehatan oleh Satuan Petugas (Satgas) Sekolah.

Pembicara kedua yakni Irma Listyanawati, M.Si membahas kesiapan pembelajaran menuju new normal di SLB dalam menghadapi Covid-19. Pengawas SLB di Jawa Tengah ini, menjelaskan bahwa media daring yang digunakan di SLB yaitu 97% dilakukan melalui aplikasi WhatsApp. Pemahaman new normal menurut survei terhadap 147 responden yang terdiri dari guru Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun guru-non ASN dan dari berbagai jenjang pendidikan yaitu 48,30% paham, 30,61% cukup paham, 14,29% amat paham, 5,44% kurang paham, dan 1,36% tidak paham.

Model pembelajaran yang diinginkan responden yakni daring dan tatap muka namun kenyataan di lapangan selama ini menunjukkan bahwa guru lebih banyak memberi tugas melalui aplikasi WhatsApp. Pola masuk pembelajaran dalam sepekan yakni 2 hari tatap muka dan 3 hari daring.

Irma menjelaskan bahwa pembelajaran menuju new normal di SLB dikatakan cukup siap.

"Pembelajaran menuju new normal di SLB menghadapi Covid-19 dikatakan cukup siap tetapi jika pemerintah sudah menganjurkan, tetap akan dipatuhi. Tidak ada yang menyatakan amat siap dan tidak siap, yang menyatakan siap dan tidak siap pada tiap satuan pendidikan sebaiknya bukan mutlak sekolah, tetapi harus gugus Covid-19 setempat," jelas Irma.

Sekalipun protokol kesehatan telah dinyatakan siap, tetapi siswa berkebutuhan khusus memiliki risiko yang lebih besar dibanding anak usia sebaya. Ini dikarenakan sebagian besar pemahaman terhadap Covid-19 dan risikonya tidak dipahami atau tidak tahu resiko, tidak paham cara menghindari, dan daya tahan jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tertentu lebih rentan.* eko prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya