Selasa, 2 Juni 2026
Sastra & Humor

Jika Ada Gelombang ke Dua Covid-19, Jabar Lebih Siap

Menurut Ridwan Kamil, dengan swasembada alat seperti PCR, rapid test, ventilator, hingga alat pelindung diri (APD), Jabar bisa lebih maksimal dalam penanganan dan siap apabila dihadapkan dengan gelombang ke dua Covid-19.

Selasa, 30 Juni 2020
kamil_3.jpg
Humas Pemprov Jabar
RIDWAN Kamil dalam sesi wawancara daring dengan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, dari Gedung Pakuan Bandung, Senin (29/6/2020).*

KISUTA.com - Sebagai antisipasi kemungkinan gelombang dua Covid-19, Jabar sudah memiliki kemampuan memproduksi sejumlah peralatan kesehatan, termasuk alat PCR.

Hal itu dikatakan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jawa Barat, Ridwan Kamil, saat berdialog dengan perwakilan UNDP secara virtual, Senin (29/6/2020).

Menurutnya, dengan swasembada alat seperti PCR, rapid test, ventilator, hingga alat pelindung diri (APD), Jabar bisa lebih maksimal dalam penanganan dan siap apabila dihadapkan dengan gelombang ke dua Covid-19.

Menurutnya, gelombang dua bisa saja terjadi, namun akan lebih kecil dampaknya karena kesiapan menghadapi pandemi lebih baik. Dari sisi kesiapan peralatan maupun kesadaran masyarakat menjaga protokol kesehatan, sudah lebih baik.

"Jabar sekarang bisa swasembada, itu mungkin bedanya Jabar dengan provinsi lain dan ini yang membuat kami lebih tenang terkait persiapan-persiapan kalau terjadi gelombang ke dua," kata Ridwan Kamil, dalam sesi wawancara daring dengan United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia, dari Gedung Pakuan Bandung, Senin (29/6/2020).

Saat ini 60 persen industri manufaktur di Indonesia berada di Jabar. Maka saat ada pandemi Covid-19 beberapa dari industri tersebut beralih menjadi memproduksi APD. Perusahaan alutsista milik pemerintah juga kini mampu memproduksi ventilator dan alat PCR. Jabar juga proaktif melibatkan institusi pendidikan untuk memproduksi sendiri alat rapid test yang jauh lebih akurat dan murah.

"60 persen industri hi-tech ada di Jabar, maka saat ada Covid-19 industri ini kita koordinasikan memproduksi alat-alat perang melawan Covid-19. Maka per hari ini kita ventilator sudah swasembada, APD sangat mencukupi bahkan masker bedah berlimpah, alat rapid test juga bikin sendiri, alat PCR bisa diproduksi 100 ribu per minggu," papar Kang Emil, sapaan akrabnya.

Kelengkapan alat medis membuat penanganannya Covid-19 di Jabar selalu maksimal. Kang Emil malaporkan, tingkat kesembuhan hingga tanggal 27 Juni 2020 mencapai 17 orang per hari. Apabila dirata-ratakan, maka lebih banyak kasus yang sembuh dibanding positif aktif.

"Ini yang membuat Jabar dalam penanganan Covid-19 selalu maksimal," ujarnya.

Hal itu pun terlihat dari jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit terus berkurang yang kini tinggal di angka 26 persen. Sejumlah rumah sakit rujukan Covid-19 pun sudah kembali membuka pelayanan untuk penyakit umum.

"Saya berdoa tiap hari mudah-mudahan terus sampai akhinya nol persen tidak ada lagi yang dirawat karena Covid-19," ucap Kang Emil.

Ia menambahkan, masalah Covid-19 bukan hanya kewajiban dari pemerintah. Karena dalam kondisi berperang maka semua yang mengaku warga Indonesia harus turut serta bela negara baik dengan ilmunya, harta maupun tenaganya.

"Covid-19 bukan kewajiban pemerintah saja, karena kita ini lagi perang maka semua yang mengaku WNI harus ikut serta bela negara dengan menyumbangkan apapun termasuk melakukan kedisiplinan itu juga bela negara. Bedanya, sekarang yang di depan dalam perang ini adalah tenaga kesehatan," ujarnya.* harie – kisuta.com


KATA KUNCI

BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya