Pakar Ekonomi Uniba: Indikator Resesi Sudah Nyata
KISUTA.com - Pakar Ekonomi Universitas Islam Batik (Uniba) Dr. Supawi Pawenang, SE, MM mengemukakan, indikator resesi sudah sangat nyata. Konsumsi masyarakat turun. Investasi turun. Ekspor impor juga turun. Satu-satunya yang bisa diharapkan untuk menghadang laju penurunan ekonomi adalah pengeluaran pemerintah.
"Ini yang bisa diandalkan untuk menstimulasi konsumsi agar bisa meredam ketajaman penurunan," ungkap Supawi kepada wartawan Kisuta.com, di Kampus Uniba, Solo, Kamis (6/8/2020).
Hanya saja pengeluaran pemerintah, kata Supawi, tidak segera terpompa. Sehingga akan semakin berat menopang laju penurunan ekonomi. Pada sistem globalisasi ekonomi yang menjadikan antar negara saling terkait dan saling tergantung seperti sekarang ini, ancaman resesi memang selalu menghantui.
Ketika suatu negara mitra terkendala dalam alur rantai supply faktor ekonomi, menurut Supawi, akan bisa mengalami resesi, dan efeknya merambat ke negara mitra lainnya. Terlebih dengan adanya pandemi Covid19, dimana hampir seluruh negara terdampak, maka krisis ekonomi sudah menjadi ancaman global, tidak hanya Indonesia.
Sifat resesi ekonomi sekarang ini, menurut Ekonom Uniba, ibaratnya seperti obat nyamuk bakar, makin lama makin berdekatan jarak resesinya. Ini akibat efek rambatan yang merupakan fenomena utama globalisasi. Untuk menghambatnya tentu saja dibutuhkan kerjasama yang kuat antar negara.
Kembali kepada resesi ekonomi Indonesia, menurut Supawi, indikator pelemahan ekonomi dua kuartal pertama tahun 2020 sudah jelas turun. Kuartal ketiga ini indikator untuk bangkitnya belum tampak. Justru indikator penurunan yang semakin kuat. Maka resesi merupakan suatu fenomena.
Supawi nengatakan, secara budaya, Indonesia sebenarnya punya dampak penghambat resesi ekonomi, yaitu lebaran idul Fitri, idul adha, natalan dan tahun baru itu semua faktor penggerak roda ekonomi. Ditambah lagi budaya hajatan pesta pernikahan itu juga penggerak ekonomi.
"Hanya sayangnya tahun ini fenomena budaya ini ikut terhenti, maka resesi tidak terbendung lagi. Itulah kenyataannya, maka wajar bila akhirnya APBN harus defisit lebih besar lagi, karena pemasukan berkurang dan pengeluaran harus ditambah," ungkapnya.* eko prasetyo - kisuta.com


