Senin, 1 Juni 2026
Sastra & Humor
Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan Nyatakan Sikap

Tindak Tegas Para Pelaku Intimidasi dan Pembubaran Paksa Acara Midodareni

Senin, 10 Agustus 2020

KISUTA.com - Kekerasan yang terjadi di kediaman almarhum Habib Segaf Aljufri, Mertodranan Solo pada Sabtu malam 8 Agustus 2020 menjadi peristiwa buruk bagi perempuan di wilayah Solo Raya, tidak hanya bagi korban.

Untuk itu, Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan dapat merasakan betul trauma para perempuan dan anak yang berada di dalam rumah ketika peristiwa intimidasi dan pembubaran paksa acara Midodareni tersebut terjadi.

"Bagi kami, Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan, peristiwa ini menunjukkan secara nyata bahwa perempuan jarang diperhitungkan sebagai korban, dalam peristiwa kekerasan," tandas Haryani Saptaningtyas mewakili Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan, di Solo, Senin (10/8/2020).

Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan juga melihat bahwa acara midodareni adalah upacara yang penting bagi seorang perempuan untuk memulai kehidupan mandirinya. Dalam konteks antropologis, upacara midodaren adalah peristiwa ritual sebelum pernikahan, di mana perempuan akan menjadi mandiri untuk membangun keluarga baru sebagai unit sosial terkecil.

"Kami melihat peristiwa semalam itu, telah mengubah tradisi perayaan penuh doa menjadi kesedihan dan traumatic bagi perempuan," ungkap Haryani.

Haryani menandaskan Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan menyatakan memberikan dukungan moral dan solidaritas, bagi para korban, utamanya perempuan dan anak yang berada di dalam rumah. Sangat disayangkan hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak kepolisian terkait jumlahnya.

"Tetapi beredar informasi bahwa semasa kejadian, setidaknya ada 3 anak balita dan 3 anak remaja yang salah satunya menjadi korban pemukulan serta 16 perempuan," ujarnya.

Untuk itu Aliansi Perempuan Solo Anti Kekerasan menuntut kepada pihak berwajib, untuk menemukan otak pelaku dan memberi hukuman yang sesuai karena tindakan mereka telah menyebarkan ketakutan tak hanya bagi keluarga korban, tetapi menimbulkan keresahan berlebih bagi perempuan dan anak di komunitas-komunitas minoritas yang lainnya.

Menurut Haryani, surat pernyataan ini didukung antara lain, Kluster Komunitas Keagamaan, Kepemudaan dan lintas agama Solo Raya, seperti Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga MUI Sukoharjo, Fatayat NU Solo, PC Muslimat NU Sukoharjo, PC Ansor kota Surakarta dan sebagainya.* eko prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya