PLTGB Antarkan Mahasiswa PTB FKIP UNS Juarai LKTIN
KISUTA.com - Kabar gembira datang dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Teknik Bangunan (PTB) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Pasalnya, tim mahasiswa dari Prodi PTB berhasil meraih Juara Harapan 2 dalam kompetisi Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional (LKTIN) The 3rd Diploma Civil Scientific Competition (The 3rd DISCO) pada 12 Agustus lalu. Kompetisi tersebut diselenggarakan secara daring oleh Kelompok Studi Riset Diploma Teknik Sipil Sekolah Vokasi (SV) Universitas Diponegoro (Undip).
Ketiga mahasiswa yang tergabung dalam 1 tim yaitu Yuniar Amalia angkatan 2018, Luluk Hanifah, dan Nabila Khairuni dari angkatan 2017. Yuniar Amalia selaku ketua tim mengungkapkan bahwa mereka tidak menyangka dapat meraih juara.
"Sebenarnya tidak menyangka masuk ke babak final, semua ini tidak lepas dari bimbingan kakak tingkat dan dosen pembimbing. Apalagi kami bisa meraih juara harapan 2 merupakan hal yang tidak terduga mengingat ini baru pertama kali kami ikut kompetisi nasional. Kami sangat bersyukur mendapatkan pengalaman bersaing dengan rival dari universitas lain," ungkapnya, di Kampus UNS, Solo, Senin (24/8/2020).
Mahasiswa semester 5 tersebut menuturkan bahwa ia mengusung gagasan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Gempa Bumi (PLTGB).
"Indonesia punya potensi untuk memanfaatkan getaran gempa bumi menjadi listrik, melalui PLTGB. Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk proses konversi energi getaran gempa bumi menjadi energi listrik yakni menggunakan bahan piezoelektrik. Bahan piezoelektrik merupakan bahan yang memiliki keunggulan tinggi dengan rapat energi stabil dan tidak membutuhkan daya dari luar sehingga dalam pemanfaatannya menghasilkan keuntungan yang besar," jelas Yuniar.
Ia kembali menjelaskan bahwa prinsip penerapan PLTGB yang mereka gagas akan dilakukan dalam dua periode, yaitu periode saat gempa dan periode di luar gempa dengan tujuan penyimpanan cadangan energi di luar gempa.
"Konstruksi bahan PLTGB ditanamkan di bawah jalan raya pada 5 meter di dekat zebra cross yang akan dibuat seperti polisi tidur, sehingga pada periode gempa bahan tersebut akan bekerja sebagaimana prinsipnya. Namun ketika di luar periode gempa apabila kendaraan berhenti atau berjalan maka akan memberikan tekanan mekanik pada piezoelektrik yang dapat menghasilkan arus listrik," imbuhnya.
Kompetisi yang diikuti oleh mereka berlangsung secara daring sejak Oktober tahun lalu, namun karena adanya pandemi kemudian diundur menjadi Agustus 2020. Lomba tersebut diikuti oleh 28 tim dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia, kemudian panitia menyaring menjadi 5 finalis yang berhak melakukan presentasi karya.
Yuniar berharap, melalui capaian ini dapat memacu untuk lebih giat dalam mengasah softskill maupun hardskill.
"Semoga kita semua makin meningkatkan softskill dan hardskill yang mana saat ini masuk revolusi industri 4.0 yang tingkat kompetisinya sangat ketat. Bukan hanya kompetisi masuk perguruan tinggi, tetapi juga dalam dunia kerja, dunia bisnis, dan hal lainnya," harap Yuniar.* eko prasetyo - kisuta.com


