Grup Riset Farmasi UNS Dirikan Pharmacy Corner di Tamcer Jebres
KISUTA.com - Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) telah mencanangkan program Dagusibu (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang) obat sebagai bentuk edukasi yang harus diberikan apoteker kepada pasien atau masyarakat. Akan tetapi, masih banyak masyarakat yang belum memahami betul penggunaan obat dengan baik dan benar.
Oleh karenanya, dibutuhkan edukasi dan pemaparan informasi sejak dini kepada masyarakat perihal obat serta penggunaannya. Grup Riset Metabolic Disorders Program Studi (Prodi) S1 Farmasi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta pun mengambil bagian dalam upaya edukasi tersebut dengan mendirikan Pharmacy Corner atau Pojok Farmasi di Taman Cerdas Soekarno-Hatta Jebres (TCSHJ), Surakarta sejak akhir Agustus 2020 lalu.
Bertajuk "Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat melalui Pharmacy Corner di Taman Cerdas Soekarno Hatta" dan diketuai oleh Yeni Farida, S.Farm., M.Sc., Apt, pengabdian ini memiliki serangkaian kegiatan. Salah satu yang telah terlaksana ialah pengenalan penggolongan obat dan obat dasar yang harus tersedia di rumah sebagai Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K).
"Hal ini dianggap sebagai topik penting oleh tim, mengingat rendahnya pengetahuan masyarakat tentang penggunaan obat terutama saat kondisi darurat sebagai pertolongan pertama di rumah," ujar Yeni, Sabtu (5/9/2020).
Tim yang beranggotakan Rasmaya Niruri S.Si., M. Farm.Klin, Adi Yugatama S.Farm., M.Sc., Apt, dan Fea Prihapsara S.Farm., M.Sc. sesama Dosen Farmasi UNS serta Siti Mar'ufah dari Fakultas Kedokteran (FK) ini, juga menyusun media edukasi dalam bentuk komik atau buku cerita anak dan video kartun animasi.
Komik tersebut mengangkat cerita tentang apoteker kecil yang bertujuan untuk mengenalkan profesi apoteker kepada masyarakat, khususnya anak-anak. Terutama ketika apoteker memberikan edukasi seputar penggunaan obat. Selain itu, video kartun animasi mengangkat cerita serupa dari salah satu bagian cerita dalam komik.
"Media edukasi berupa komik dan kartun animasi ini kami pilih agar dapat menarik minat masyarakat, khususnya anak-anak. Sehingga memudahkan mereka memahami informasi karena disertai dengan ilustrasi gambar di komik maupun gambar bergerak," imbuh Yeni.
Pemilihan TCSHJ oleh tim ini sendiri tidak terlepas dari misi berdiri taman yakni sebagai wahana bermain dan belajar, mengembangkan potensi dan kreativitas anak, serta sebagai tempat edukasi yang layak bagi anak.
Namun saat ini, edukasi yang terfasilitasi di taman tersebut baru meliputi seni, komunikasi, dan teknologi informasi. Belum mencakup edukasi kesehatan. Maka adanya taman ini, jelas Yeni, harus dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan berbagai wawasan baru kepada anak-anak termasuk perihal kesehatan.
Yeni pun menambahkan, melalui pojok farmasi ini, ia dan tim tidak hanya mengedukasi perihal obat dan penggunaannya. Akan tetapi, juga perihal kesehatan secara umum dan khusus, termasuk perihal Covid-19 yang masih mewabah hingga saat ini dengan memberikan poster edukasi Covid-19.
"Menjelang dibukanya kembali TCSHJ untuk masyarakat umum di masa normal baru ini, pengelola memang mempersiapkan protokol kesehatan bagi pengunjung. Poster tersebut ditempel di beberapa tempat luar ruang agar dapat dibaca oleh seluruh pengunjung," pungkas Yeni.* eko prasetyo - kisuta.com


