Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi
Webinar IKM UNS

Ini Ulasan Prof. Bhisma Murti tentang Supply dan Demand Pelayanan Kesehatan

Senin, 7 September 2020
bisma.jpg
Ist.
KEPALA Program Studi S-2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) UNS, Prof. Bhisma Murti.*

KISUTA.com - Guru Besar Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sekaligus Kepala Program Studi S-2 Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM) UNS, Prof. Bhisma Murti mengulas tentang supply dan demand pelayanan kesehatan. Hal tersebut disampaikan oleh beliau pada webinar supply dan demand pelayanan kesehatan yang diadakan oleh Prodi S-2 IKM pada Senin (7/9/2020).

Demand dan supply memiliki hubungan yang erat dengan produksi pelayanan kesehatan dan produksi kesehatan. Produksi pelayanan kesehatan dapat dilakukan oleh rumah sakit, Puskesmas, klinik, bidan, dan laboratorium medis.

"Pelayanan kesehatan diminta oleh konsumen atau pasien yang digunakan untuk produksi kesehatan, produksi kesehatan outputnya adalah kesehatan. Produsennya adalah kita, setiap individu, tidak harus seorang praktisi kesehatan. Produsen kesehatan dapat menggunakan sejumlah input antara lain pelayanan kesehatan, diet, exercise, lingkungan, income, dan waktu untuk memproduksi kesehatan," jelasnya.

Hal tersebut akan berdampak pada kesehatan masyarakat, memiliki hari-hari yang sehat selama setahun tentu jauh lebih baik dibandingkan dengan 1-2 hari dengan keadaan kurang sehat.

"Jadi, masyarakat meminta pelayanan kesehatan dengan tujuan akhir berupa meminta kesehatan atau _derived demand for health," terang Prof. Bhisma.

Prof. Bhisma kembali menambahkan bahwa dalam hukum permintaan atau law of demand, kuantitas permintaan apapun termasuk pelayanan kesehatan ditentukan oleh banyak faktor, salah satu faktor yang penting adalah harga. Jika harga naik, permintaan akan turun, tetapi sebaliknya jika harga turun maka permintaan akan meningkat.

Konsumen atau pasien akan meningkatkan permintaan apabila harga turun, contohnya saat dibiayai oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Ia menjelaskan bahwa hal tersebut karena masyarakat ingin memaksimalkan manfaat kepuasan serta mengingat hukum demand pada kurva permintaan atau yang disebut kurva marginal utility.

"Elastisitas maksudnya ketika harga berubah sedikit saja maka seberapa banyak pengaruhnya terhadap perubahan kuantitas pelayanan kesehatan. Jika mempengaruhi banyak perubahan kesehatan, maka ini disebut elastis," jelasnya.

Prof. Bhisma menambahkan bahwa berbagai kemungkinan elastisitas permintaan terhadap harga perfectly elastis itu tidak terhingga price elasticity of demandnya (PED).

"Yang ekstrem lainnya yaitu perfectly inelastic, sangat tidak elastis karena PEDnya 0. Artinya bahwa kuantitas yang diminta oleh pasien sama sekali tidak bergantung pada harga. Contohnya obat-obatan atau pelayanan darurat yang dapat menyelamatkan nyawa pasien dan tidak ada substitusi, ini memiliki inelastisitas sempurna. Kemudian saat persen perubahan harga sama dengan persen perubahan kuantitas sehingga PEDnya sama dengan 1, misal pelayanan kesehatan naik 1% maka kuantitas pelayanan kesehatan akan turun 1% juga," pungkasnya.* eko prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya