Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi

LPPM UNS Kolaborasi Hasil Inovasi Teknologi Gasifikasi Cangkang Sawit

Hasil kolaborasi peneliti LPPM UNS dan Mitra Industri: Inovasi teknologi gasifikasi cangkang sawit untuk pemanasan agregat pada proses produksi campuran beraspal panas.

Rabu, 16 September 2020
sawit.jpg
Humas UNS
PENGERJAAN hasil inovasi.*

KISUTA.com - Peneliti LPPM UNS penerima dana Grant Riset Sawit (GRS K18.2) Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yaitu Dr. Sunu H Pranolo (Teknik Kimia), Dr. Joko Waluyo (Teknik Kimia), Ir. Ary Setyawan, Ph.D. (Teknik Sipil), dan Dr. Prabang Setyono (Ilmu Lingkungan) berkolaborasi dengan mitra fabrikator alat gasifikasi PT Bara Energi Biomas berhasil melakukan pengembangan dan pembuktian kehandalan teknologi gasifikasi cangkang sawit hasil pengembangan ini untuk keperluan pemanasan agregat tanpa penurunan kualitas campuran beraspal panas maupun kualitas jalan raya hasil penggelaran dengan campuran beraspal panas.

"Pemanfaatan cangkang sawit selain karena nilai kalor pembakarannya relatif tinggi (17 – 19 MJ/kg) dibanding biomassa lain, ketersediaannya juga cukup melimpah terutama di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan tempat pembangunan infrastruktur jalan raya dikembangkan secara masif," ungkap Ir. Ary Setyawan, Ph.D sebagai peneliti kepada Kisuta.com melalui telpon seluler, di Solo, Rabu (16/9/2020).

Lebih lanjut Ari mengemukakan, percepatan program pembangunan infrastruktur jalan raya sebagai salah satu faktor penting pendukung pertumbuhan ekonomi berdampak langsung pada peningkatan permintaan campuran beraspal panas (hot-mixed asphalt) sebagai salah satu komponen utama konstruksi jalan raya. Produksi campuran beraspal panas di suatu industri Asphalt Mixing Plant (AMP) memerlukan energi untuk pemanasan agregat dan aspal sebelum proses pencampuran.

"Sesuai Surat Edaran Dirjen Binamarga Kementerian PUPR No. 10/SE/M/2011, pemenuhan energi tersebut harus dipasok oleh panas hasil pembakaran BBM (solar), gas alam atau gas hasil gasifikasi batubara. Di sisi lain, Pemerintah Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional yang menetapkan peningkatan peran energi baru dan terbarukan pada total konsumsi energi nasional," ujarnya.

Menurut Ari, produksi satu ton campuran beraspal panas memerlukan sekitar 30 – 40 kg cangkang sawit.

Ari juga mengatakan, kajian dampak lingkungan dengan metode Life Cycle Analysis dalam penelitian ini juga berhasil menunjukkan bahwa penggunaan cangkang sawit (sebagai biomassa bersifat carbon-neutral) melalui teknologi gasifikasi mampu menurunkan sampai dengan 40% emisi CO2-ekuivalen bila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar fosil lainnya. Analisa keekonomian juga menunjukkan bahwa penggunaan teknologi ini mampu menekan biaya konsumsi bahan bakar sampai dengan 75%.

Walaupun diperlukan instalasi awal alat gasifikasi beserta kelengkapannya, biaya penanganan cangkang sawit dan tambahan tenaga kerja operasi gasifikasi, total biaya produksi masih cenderung lebih rendah bila dibandingkan dengan penggunaan bahan bakar minyak.

Pada akhirnya, kata Ari, hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai pertimbangan ilmiah pengesahan dan penerbitan kebijakan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat terhadap penggunaan gas hasil gasifikasi cangkang sawit di samping bahan bakar fosil untuk sumber energi pemanas agregat pada proses produksi campuran beraspal panas.

Dampak penerapan kebijakan ini berpotensi pada penghematan anggaran infrastruktur atau dengan besaran anggaran sama akan lebih panjang jalan raya dapat dibangun dengan tetap memberikan keuntungan ekonomi pada industri campuran beraspal panas. Industri perkebunan kelapa sawit juga mendapat manfaat atas pengurangan timbulan limbah padat.* eko prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya