Selasa, 2 Juni 2026
Sosok Inspirasi

HMP PLB dengan Kita Grahita Ulas Pemberdayaan Difabel dalam Dunia Vokasional

Rabu, 7 Oktober 2020
acom.jpg
Humas UNS

KISUTA.com – Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Luar Biasa (HMP PLB) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjalin kolaborasi dengan Kita Grahita menggelar webinar dengan mengusung tema `Pemberdayaan Difabel dalam Dunia Vokasional`. Diskusi ini dilaksanakan pada Rabu (7/10/2020) melalui aplikasi Zoom Meeting yang dihadiri lebih dari 90 peserta. Acara ini menghadirkan 2 narasumber utama yakni Triyono, S.Pt. dan Arina Pradhita.

Materi awal disampaikan oleh Arina Pradhita selaku Project Coordinator DNetwork. Pada kesempatan ini, Arina membawa bahasan mengenai kualitas diri apa saja yang harus dikembangkan dalam bekerja maupun berbisnis bagi difabel. Awalnya, difabel harus mengenali potensi diri sendiri.

"Kenali potensi diri sendiri. Hal ini seperti mencakup siapa kita? Bagaimana sifat kita? Keterampilan apa yang kita punya? Apa kelebihan dan kekurangan kita? Pekerjaan apa yang bisa kita lakukan? Dan apa yang cocok untuk kita?," terang Arina.

Selanjutnya, menurut Arina terdapat 6 poin yang perlu diperhatikan untuk mengetahui kualitas diri pada difabel. Keenam poin tersebut adalah kemampuan untuk mengamati dan menganalisa lingkungan, beradaptasi, mengatur strategi, berani dan memiliki keinginan untuk belajar, komunikasi, dan kreatif. Ketika menutup pemaparannya, Arina menekankan bahwa diskusi perlu diutamakan.

"Untuk mendukung tercapainya humanity sangat perlu diadakan diskusi, edukasi kepada pemerintah dan masyarakat. Utamakan berdiskusi bukan cuma asumsi. Selalu ada jalan untuk bekerja maupun berbisnis bagi orang yang memiliki kualitas diri," imbuhnya.

Pembicara selanjutnya adalah Triyono, S.Pt yang merupakan Owner Difa City Tour Jogja, layanan ojek daring yang mempekerjakan difabel. Triyono memaparkan bagaimana langkah-langkah untuk merintis _lsocial enterprise. Dalam social enterprise, selain keterampilan untuk berwirausaha, perlu untuk menciptakan sistem yang bertanggung jawab.

"Sistem sangat dibutuhkan selain skill wirausaha. Perlu menciptakan sistem yang bertanggung jawab dalam kehidupannya. Misalnya dari Difabike yang memberi kesempatan untuk berkarya, berbisnis, berbahasa, dan beretika. Di mana dari Difabike memberikan pelatihan-pelatihan juga menghadirkan expert-expert seperti engineer finance," jelas Triyono.

Dalam penjelasan Triyono, untuk merintis social enterprise, terdapat beberapa tahapan yang perlu diperhatikan. Pertama, lihat kebutuhan pasar dan segera buat desain sistem-sistem yang dibutuhkan. Setelah itu lakukan inovasi, riset, dan bangun jaringan. Tak kalah penting adalah memiliki perencanaan yang terarah. Fokus dan berkelanjutan juga harus diperhatikan dalam social enterprise. Jika semua hal tersebut terlaksana dengan baik, kemungkinan social enterprise akan menjadi sukses.

Menutup pemaparannya, Triyono berpesan agar mahasiswa dapat menjadi leader of change. Perjuangan masih panjang menuju ke arah kemuliaan manusia. Jangan cuma jadi agent of change tapi jadilah leader of change. Lakukan yang terbaik dan menyelesaikan sebuah masalah untuk mencari solusi dan berdampak positif untuk semuanya. Jadilah orang moderat agar bisa berkelanjutan, superteam bukan superman. Pesan untuk PLB lanjutkan kuliah sampai ke luar negeri, agar lebih mendalam tentang humanity yang akhirnya bisa merekonstruksi pemikiran-pemikiran humanity di Indonesia," pesannya.* eko prasetyo - kisuta.com


BAGIKAN

BERI KOMENTAR
masjidraya