UNS Kukuhkan Tiga Guru Besar Baru
KISUTA.com - Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mengukuhkan tiga guru besar baru secara luring dan daring pada Selasa (3/11/2020). Ketiga guru besar tersebut yaitu Prof. Dr. Budhi Haryanto, MM. yang merupakan guru besar dalam bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, ST, MT, IPM, ASEAN.Eng yang merupakan guru besar dalam bidang Ilmu Teknik Industri dan Prof. Dr. Ir. Margaretha Maria Alacoque (MMA) Retno Rosariastuti, M.Si. yang merupakan guru besar dalam bidang Ilmu Bioremediasi Tanah Fakultas Pertanian (FP) UNS.
Prof. Dr. Budhi Haryanto, MM. Guru Besar ke-16 FEB dan ke-225 di UNS akan membawakan pidato pengukuhan dengan judul `Model Keperilakuan Konsumen dengan Variabel Pemoderasi Jenis Produk (Studi Pada Makanan Tradisional).
Perilaku konsumen terhadap makanan tradisional adalah merupakan isu yang relatif menarik untuk diteorikan. Hal ini dikarenakan ada 2 alasan yang mendasari yaitu alasan praktis terkait dengan fenomena riil yang terjadi di Indonesia yaitu tentang gejala-gejala negatif yang berkenaan dengan makanan tradisional. Gejala negatif yang dirasakan adalah fenomena tentang turunnya pasar tradisional sekitar 8,1% dan fenomena kemunculan pasar modern sekitar 31,4 %. Ini berarti bahwa ada penurunan jumlah penjualan sekitar 17,5 - 30,0 % yang dikarenakan oleh penurunan jumlah konsumen terhadap pasar tradisional sekitar 29,0 - 32,0% per tahun. Penurunan ini termasuk didalamnya adalah penurunan penjualan terhadap makanan tradisional.
Gejala negatif berikutnya adalah fenomena tentang masuknya berbagai jenis makanan import yang bersaing dengan makanan tradisional dengan berbagai rancangan strategi pemasaran yang menarik, diantaranya adalah KFC, CFF, Burger King yang bersaing di kelas Ayam Goreng. Selanjutnya Thai Tea, Star Buck, minuman buble dan minuman import lainnya yang bersaing dengan jenis minuman tradisional seperti Kopi Klotok, Dawet, bajigur, dan minuman tradisional lainnya.
Demikian juga semakin menjamurnya berbagai restoran, seperti restoran Cina, Restoran Thailand, Restoran Korea, Restoran Steak yang kesemuanya menawarkan menu-menu masakan luar negeri. Hal sama juga terjadi pada jenis jajanan import yang mulai menggeser jajanan tradisional atau jajanan pasar. Ternyata kondisi ini diperparah pola asuh orang tua yang mengarahkan anak-anaknya untuk menyenangi makanan import.
“Perenungan kita adalah sampai kapankah makanan tradisional kita mampu bersaing dengan makanan-makanan import?,” ujar Prof. Budhi.
Prof. Budhi menambahkan, berbagai kajian keilmuan dan berbagai pendekatan telah dilakukan, diantaranya dari sisi kebudayaan, keagamaan, kepariwisataan dan berbagai pendekatan lainnya yang pada dasarnya untuk mempertahankan eksistensi makanan tradisional . Cara-cara tersebut memang efektif, namun sifatnya adalah himbauan, ajakan, atau hal-hal lain yang terkait dengan kepatutan, etika dan kebangsaan.
Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Bambang Suhardi, ST, MT, IPM, ASEAN.Eng guru besar ke-15 FT dan ke-226 UNS akan membacakan pidato pengukuhan dengan judul `Penerapan Ergonomi untuk Meningkatkan Daya Saing Industri Kecil Furniture.
Sejak tahun 2013, Prof. Bambang sudah ikut terlibat dalam penelitian dan pengabdian masyarakat terutama untuk meningkatkan daya saing UMKM. Beliau melakukan kajian mengenai keterbatasan teknologi proses produksi di UMKM. Keterbatasan teknologi proses produksi menyebabkan terbatasnya jumlah, jenis dan variasi produk yang dihasilkan serta kualitas produk yang rendah, sehingga produk yang dihasilkan menjadi statis dan tidak mampu lagi untuk bersaing di pasar. Untuk itu perlu diatasi dengan menerapkan teknologi tepat guna. Penerapan teknologi tepat guna di UMKM bisa meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas produk.
Teknologi tepat guna adalah teknologi yang dirancang bagi suatu masyarakat tertentu agar dapat disesuaikan dengan aspek-aspek lingkungan, keetisan, kebudayaan, sosial politik dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Teknologi tepat guna harus menerapkan metode yang hemat sumber daya, mudah dirawat, dan menimbulkan dampak terhadap lingkungan yang minimal dibandingkan dengan teknologi pada umumnya. Penerapan teknologi tepat guna bisa dilakukan dengan cara intervensi ergonomi.
Beliau menyumbangkan tenaga dan pikirannya, mengembangkan berbagai desain alat bantu dan metode perbaikan sistem kerja sebagai opsi intervensi untuk meningkatkan daya saing UMKM.
Sedangkan Prof. Dr. Ir. Margaretha Maria Alacoque (MMA) Retno Rosariastuti, M.Si. Guru besar ke-30 FP dan ke-227 UNS ini akan membacakan pidato pengukuhan dengan judul `Pengembangan Teknologi Bioremediasi Dalam Remediasi Tanah Tercemar Untuk Mendukung Pertanian Berkelanjutan.
Bioremediasi merupakan suatu teknologi untuk memulihkan lingkungan tercemar material berbahaya menggunakan mikroorganisme atau tumbuhan tingkat tinggi yang ada di alam. Bioremediasi mengandung pengertian bio (ogranisme hidup) dan remediasi (pemulihan kembali). Prinsip utamanya adalah mengubah dan mendegradasi polutan seperti hidrokarbon, minyak, logam berat, pestisida, pewarna dan sebagainya. Tujuan dari penggunaan teknologi bioremediasi antara lain karena di Indonesia, banyak terjadi degradasi pada lahan pertanian yang antara lain disebabkan oleh pencemaran logam berat dari limbah industri dan rumah tangga. Alih fungsi lahan pertanian ke peruntukan lainnya juga menyebabkan meningkatnya kasus degradasi lahan yang menyebabkan makin banyaknya lahan marginal.
Dengan makin sempitnya lahan pertanian serta banyaknya lahan terdegradasi maka perlu upaya remediasi terhadap lahan terdegradasi. Sehingga dapat digunakan untuk kegiatan pertanian dengan produktivitas lahan yang tinggi dan produk pertanian yang aman dikonsumsi. Diperlukan metode remediasi tanah tercemar, khususnya tercemar logam berat yang murah, mudah dalam aplikasinya, aman, ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Hal ini merupakan suatu tantangan bagi kita untuk mendapat teknologi tersebut. Adapun metode yang dapat memenuhi semua kriteria tersebut adalah Bioremediasi,” ujar Prof. Retno.
Penanganan tanah tercemar logam yang telah dilakukan selama ini menekankan penanganan secara fisik dan kimia. Yaitu dengan memindahkan/membuang tanah, reklamasi lahan, stabilisasi atau pemadatan, ekstraksi secara fisiko-kimia, pencucian dan penggelontoran tanah. Penanganan cara ini seringkali digunakan untuk penanganan yang bersifat sementara dengan kebutuhan energi dan biaya yang relatif besar dan secara ekologis kurang menguntungkan karena merusak struktur dan ekosistem tanah.
“Pemanfaatan teknologi bioremdiasi, diharapkan akan dapat mengatasi segala permasalahan tersebut. Teknologi bioremediasi tanah yang telah digunakan saat ini adalah teknologi bioremediasi menggunakan mikroorganisma saja (bioremediasi) atau tanaman saja (fitoremediasi). Mikroorganisma berperan dalam imobilisasi, detoksifikasi atau degradasi beragam limbah kimia dan bahan berbahaya dari lingkungan, sehingga dapat menguraikan atau mentransformasi bahan pencemar berbahaya,” pungkasnya.* Eko Prasetyo - kisuta.com


