UNS Fintech Center Adakan Kuliah Umum Bersama Tenaga Ahli Menteri Keuangan
KISUTA.com - Pusat Unggulan Iptek Perguruan Tinggi (PUI PT) Center for Fintech and Banking UNS (UNS Fintech Center) mengadakan kuliah umum online dengan mengambil tema “Perkembangan Ekonomi Global dan Indonesia” melalui Zoom Cloud Meeting, pada Sabtu (7/11/2020). Kuliah umum online ini mengundang Dr. Halim Alamsyah, MA yang saat ini menjabat sebagai Tenaga Ahli Menteri Keuangan bidang Keuangan dan Keuangan Syariah.
Acara ini dibuka oleh Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, M.Hum dan dihadiri oleh Wakil Rektor bidang Perencanaan dan Kerjasama, Prof. Dr.rer.nat Sajidan dan Ketua PUI PT Center for Fintech and Banking, Irwan Trinugroho, Ph.D.
Dalam sambutannya, Prof. Jamal berharap agar agenda ini dapat memberikan manfaat bagi seluruh peserta yang mengikuti kuliah umum online, baik itu bapak/ibu dosen, mahasiswa dari UNS maupun non-UNS dan peserta umum lainnya mengenai kondisi perekonomian Indonesia yang saat ini masih dipengaruhi oleh pandemi Covid-19 dan isu-isu lain yang mempengaruhi kestabilan ekonomi global.
Kemudian pemaparan kuliah umum oleh narasumber, Dr. Halim Alamsyah, MA. Dalam paparannya, beliau memaparkan beberapa poin diskusi, yaitu bagaimana kinerja perekonomian terakhir baik global dan domestik, policy responses yang ditempuh dan apa tantangan yang akan dihadapi ke depan.
“Perekonomian Indonesia bahkan dunia tidak pernah mengalami pengalaman separah ini," terang Dr. Halim yang pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan tahun 2015 – 2020,
Lebih lanjut Dr. Halim mengatakan, bahwa pandemi Covid-19 terjadi di tengah perlambatan ekonomi dunia dan menambah resesi ekonomi dunia. Hak ini ditandai dengan menurunnya sisi produksi, sisi permintaan dan ekspor-impor di semua negara yang berdampak pada menurunnya investasi, kenaikan PHK, hilangnya pendapatan dan menurunnya tingkat konsumsi masyarakat sehingga memunculkan kontraksi ekonomi yang tajam.
Namun, setelah kontraksi ekonomi di kuartal 2 tahun 2020, perekonomian di Indonesia mulai kembali menggeliat walau masih lambat yang ditandai dengan membaiknya beberapa indikator konsumsi dan produksi, khususnya online sales dan pemulihan ekspor, walaupun belum merata. Fase ini diprediksi akan berlangsung hinggal kuartal 3 tahun 2021.
“Dalam masa ketidakpastian, kebijakan pemerintah dan otoritas keuangan menempuh langkah-langkah untuk mengendalikan pandemi Covid-19. Yaitu dengan mendorong pemulihan ekonomi (PEN) khususnya pada kelompok yang rentan, dan menjaga Stabilitas Sistem Keuangan (SSK)," imbuh Dr. Halim.
Dr. Halim menambahkan, Pemerintah telah mengalokasikan biaya penanganan Covid-19 dan biaya pemulihan ekonomi (PEN) sebesar Rp. 695 Triliun dan Rp. 589 Triliun untuk memulihkan keadaan.
Di akhir materi yang disampaikan, Dr. Halim mengatakan bahwa tantangan ke depan bagi Indonesia adalah mendorong pertumbuhan ekonomi namun tetap inklusif. Hal ini bisa ditempuh dengan program PEN untuk sektor swasta dan income transfer program pada kelompok rentan atau low income groups serta memulihkan sektor-sektor prioritas untuk menciptakan pendapatan. “UMKM menjadi sektor prioritas dalam masa pemulihan ekonomi termasuk mendorong dan mengikutsertakan mereka ke dalam arus digitalisasi untuk dapat bersaing," lanjut Dr. Halim.
Acara kuliah umum online berlangsung selama 2 jam dan diikuti oleh 250 peserta. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan kepada narasumber setelah pemaparan materi dilakukan.* Eko Prasetyo - kisuta.com


